Monday, March 23, 2009

Masih Ingatkah Tahul-Tahul?



Tahul-tahul alias kantong semar dengan bahasa latinnya Nepenthes spp; sering kita temukan pada perjalanan ke Onansau (Kecamatan Nassau sekarang*), ditepi bukit-bukit jalan Paridian hingga sampai ke Nassau kita akan meyaksikannya dan teman-teman yang dari Lumbanruhap, Sipagabu, Tornagodang, Lumban rau, dan daerah lainnya dihabinsaran juga pasti pernah menemukan atau melihatnya. Di daerah Humbahas tumbuhan ini juga banyak ditemukan, mis.: Pakkat Sitio-Tio, Sosor Gonting, Bakara, dan Dolok Sanggul.

Pada masa kecil dulu tumbuhan ini tidak memiliki manfaat apa-apa cuma sekedar bisa dibuat mainan pelipur lara pada saat capek diperjalan. Apabila kita ingin membasmi semut, lalat, dan kecoak di rumah? Pelihara saja kantong semar. Tanaman pemangsa serangga ini agaknya menjadi cara alami yang ampuh membasmi semua serangga pengganggu, sekaligus mempercantik rumah dengan penampilannya yang unik. Nepenthes sangat unik karena berbeda dengan tanaman hias yang sering dijadikan koleksi. Bukan tanpa alasan jika tahul-tahul - begitu sebutan di sebagian Sumatera - digemari. Penampilan tanaman pemakan serangga itu memang impresif. Dari ujung daun, keluar kantong yang punya bentuk dan corak beragam. Tanaman yang termasuk dalam golongan carnivorous plant (tumbuhan pemangsa) ini bersama amorphophallus, rafflesia, dan lainnya dikategorikan sebagai tanaman hias unik.


 Kantong semar tergolong ke dalam tumbuhan liana (merambat), berumah dua, serta bunga jantan dan betina terpisah pada individu yang berbeda. Tumbuhan ini hidup di tanah, ada juga yang menempel pada batang atau ranting pohon lain sebagai epifit.

Keunikan dari tumbuhan ini adalah bentuk, ukuran, dan corak warna kantongnya. Sebenarnya kantong tersebut adalah ujung daun yang berubah bentuk dan fungsinya menjadi perangkap serangga atau binatang kecil lainnya.

Nepenthes memang belum sepopuler tanaman hias lainnya seperti anggrek, mawar, dan sebagainya. Walaupun, namanya sudah dikenal di mancanegara bahkan beberapa negara telah berhasil membudidayakan, seperti Thailand dan Belanda, dan telah mendapatkan devisa yang cukup besar dari nepenthes, dinegeri asalnya Indonesia tanaman pemangsa ini, keberadaannya tidak ada yang memperhatikan, sayang sekali ternyata kita belum begitu perhatian dengan potensi daerah kita.

Tuesday, March 10, 2009

Kematian, Kekristenan, dan Budaya Batak

1. DULU DAN SEKARANG

Kultur Batak pra-kristen memberikan perhatian yang sangat besar kepada peristiwa kematian. Menurut nenek moyang orang Batak ada berjenis-jenis kematian yang menunjukkan status sosial seseorang (yang terkait erat dengan konsepsi kesuburan/ hagabeon): mati sewaktu kanak-kanak, mati sewaktu remaja/ pemuda (mate ponggol, mate matipul), mati sesudah menikah namun tanpa anak (mate punu), mati sesudah menikah dengan anak masih kecil (mate mangkar), mati sesudah bercucu (mate sari matua), mati sesudah bercucu dari semua anak-anaknya (mate saur matua) dan puncaknya mati sesudah bercicit dan berbuyut (saur matua bulung).
Bagi kita orang yang beriman Kristen makna kematian ini adalah sama: yakni akhir hidup di dunia dan jalan untuk menghadap Tuhan. Sebab itu sebagai orang Kristen kita wajib menaruh penghormatan dan kasih yang tinggi juga kepada orang yang mati muda.

2. SOLIDARITAS DAN KOMUNALITAS

Mengapa kita harus berusaha hadir dalam peristiwa kematian seorang anggota keluarga atau kerabat? Pertama-tama: tentu hendak menunjukkan rasa hormat kepada orang yang lebih dulu mati tersebut. Kedua: menunjukkan rasa hormat dan kasih kepada orang yang ditinggalkan. Ketiga: mengingatkan diri kita bahwa suatu saat kelak kita juga harus mati. Secara khusus ritus-ritus atau acara di sekitar kematian merupakan tanda solidaritas (kesetiakawanan) kita dengan orang yang ditinggalkan. Kehadiran seluruh kelompok adat dan mandok hata yang berderet-deret dalam peristiwa kematian juga seharusnya diartikan sebagai tanda solidaritas dengan orang yang sedang berduka.

Kehadiran dalam peristiwa kematian adalah suatu tanda solidaritas dan kebersamaan: bahwa seorang yang sedang berduka tidak boleh dibiarkan sendirian menanggung bebannya. Dia harus ditemani dalam kedukaannya. Memang ada umpama pitu batu martindi sada do na tumaon na dokdok. Tetapi beban yang berat itu hendak dikurangi dan dibagi-bagikan kepada banyak orang.



3. ULOS TUJUNG DAN SAPUT


Kultur Batak mengenal ulos tujung, yaitu ulos yang diberikan hula-hula kepada seorang perempuan yang kematian suami atau menjadi janda. Ulos itu, sesuai namanya, dikerudungkan ke atas kepala si perempuan, sebagai tanda kejandaan atau bahwa “kepalanya sudah terputus” (maponggol ulu). Pada jaman dahulu tidak ada acara membuka tujung sesudah pemakaman (kecuali si janda hendak menikah lagi). Ulos tujung itu selalu dikenakan lagi oleh semua janda dalam even-even kematian yang lain, sehingga sering memberi kesan menggetarkan bagi orang yang melihatnya. Berhubung
sebelum datangnya kekristenan orang Batak masih bersifat poligami (banyak istri) maka di beberapa wilayah ulos tujung tidak diberikan kepada laki-laki yang kematian istri.

Sebagai komunitas Kristen-Batak kita dapat menerima tradisi ulos tujung ini sebagai simbol tanggungjawab yang berat (peran orangtua tunggal) yang dibebankan kepada seorang perempuan yang kematian suami. (Bagi perempuan yang sudah lanjut usia dan bercucu biasanya tidak lagi disebut ulos tujung, tetapi ulos sampetua).

Selain ulos tujung, kultur Batak juga mengenal ulos saput, yaitu ulos yang diberikan tulang untuk membungkus jenazah keponakannya. Kita komunitas Kristen-Batak sekarang mengartikan ulos saput ini adalah tanda perpisahan atau ungkapan kasih terakhir kalinya dari Tulang kepada bere/ ibaberenya yang sudah meninggal. Namun dalam pemberian ulos saput ini kita harus menyadari bahwa pada hakikatnya orang mati adalah urusan dan tanggungjawab Tuhan dan kita tidak bisa lagi berkomunikasi dengan orang yang sudah mati itu. Tentu saja kita percaya dan mengaku bahwa Kristus lah satu-satunya yang menyelamatkan kita dan membungkus jiwa kita dengan darahNya yang kudus, namun kita boleh saja menerima tanda kasih dari sesama manusia, termasuk tentu dari Tulang.

4. ONDA-ONDA, SIJAGARAON / SANGGUL MARATA

Kultur Batak menganggap kematian seorang tua yang sudah bercucu (sari matua) dan bercicit (saur matua) sebagai suatu peristiwa besar yang patut disyukuri. Tidak lagi banyak kesedihan di sana. Dalam kematian orangtua tersebut semua keturunannya akan menari (manortor) gembira dengan iringan gondang atau musik tiup (perkembangan kemudian). Kita sebagai orang Kristen bisa menerima tradisi ini dengan beberapa catatan. Iman kekristenan menolak kebiasaan agama lama menimba atau mencedok tuah atau berkat dari orang mati. Sebab itu ketika mangondasi (menari di sekeliling mayat) orang tua kita perlu tetap mengarahkan hati kepada Tuhan Yesus Kristus yang mati dan bangkit itu.

Catatan: dalam manortor kita harus mewaspadai agar mengubah simbol-simbol gerakan tubuh sewaktu manortor. Antara lain: jangan menggerakkan tangan dari arah mayat ke diri sendiri ibarat orang menimba atau mencedok air untuk minum yang biasa digunakan oleh orang Batak pra-Kristen sebagai simbol mengambil (mencedok) tuah atau berkat dari orang mati.

Sebagai tanda kebesaran dari orang tua yang sudah meninggal dunia biasa dipasang sijagaron atau sanggul marata (mahkota segar) dari daun beringin (simbol kesuburan) dan padi (simbol kekayaan) dll. Sebagai komunitas Kristen-Batak kita harus memberi makna baru kepada sanggul marata ini, yaitu sebagai tanda syukur dan persembahan kepada Tuhan yang telah memberikan umur panjang dan berkat kepada orangtua yang meninggal dunia dan keluarganya. Untuk memperkaya pemahaman itu mungkin dengan menambah simbol salib dan lilin di sanggul marata tersebut yang mengingatkan kita bahwa mahkota kehidupan hanya datang dari Allah dalam Yesus PutraNya kepada orang yang setia dalam imannya (Wahyu 3:11) dan api Roh Kudus yang membaharui hidup.

5. MANGONGKAL HOLI DOHOT MANANGKOKHON SARING-SARING

Kultur Batak pra-Kristen menganggap salah satu bentuk penghormatan kepada orangtua atau leluhur adalah dengan meninggikan posisi tulang-belulang (saring-saring) mereka di atas tanah, khususnya ke bukit yang tinggi dan batu yang keras. Panangkokhon saring-saring tu dolok-dolok na timbo tu batu na pir. Peninggian tulang-belulang ini biasanya dilakukan melalui upacara besar.

Ruhut Parmahanion Paminsangon (RPP) atau Hukum Penggembalaan dan Siasat HKBP mengatakan bahwa penggalian tulang-belulang (mangongkal holi) dimungkinkan karena beberapa alasan:

1. Kerusakan kuburan karena dimakan usia atau faktor alam (banjir, longsor).

2. Penggusuran kuburan karena pembebasan lahan untuk pembangunan jalan, waduk, industri dll.

3. Penyatuan tulang-belulang keluarga yang kuburannya terpisah-pisah.

Majelis Gereja harus mengetahui dan aktiv terlibat dalam acara penggalian tulang-belulang mulai dari menggali, menyimpan hingga memasukkan ke tempat yang baru. Bila lokasi antara kuburan yang lama dan baru berjauhan, maka tulang-belulang harus disimpan di gereja. Dalam proses menggali atau memasukkan tulang-belulang itu tidak boleh diiringi tortor dan gondang serta musik. Juga tidak berjalan Agenda Pemakaman. Majelis harus mengawasi tidak ada yang manortori, meratapi, memasukkan tulang-belulang ke ulos dan ampang/ piring, memberi sirih atau makanan, atau memasukkan batang pisang kelubang bekas penggalian.

6. TUGU

Gereja HKBP memang tidak melarang secara tegas anggota jemaat membangun tugu penghormatan kepada nenek moyang atau persatuan keluarga (marga, ompu) namun mengingatkan jemaat bahwa pembangunan tugu itu kurang berdampak bagi pembangunan kehidupan iman maupun ekonomi. Sebagai gantinya gereja HKBP menganjurkan jemaat membangun tugu yang fungsional atau hidup, seperti: sekolah, perpustakaan, poliklinik, jembatan, koperasi, komisi beasiswa dll. Gereja juga mengajak jemaat untuk selalu mengingat peristiwa kubur kosong karena Tuhan Yesus Kristus sudah bangkit dari antara orang mati. Tuhan ada di tengah-tengah realitas kehidupan. Kita juga tahu bahwa penampakan Yesus yang bangkit selalu di tengah kehidupan. Bahkan Maria Magdalena berjumpa dengan Yesus setelah ia membelakangi kubur kosong! Selanjutnya agar warga jemaat lebih dulu menyatakan kesatuan dalam Kristus dan Roh Kudus daripada kesatuan marga, luat, ompu dll.

7. ZIARAH

Kita harus mengkritisi tradisi berziarah dan membersihkan kuburan di kalangan komunitas Kristen-Batak. Iman kita mengatakan ada jurang yang tidak terseberangi yang memisahkan orang yang hidup dengan yang mati. Sebab itu kekristenan menolak setiap bentuk usaha untuk berhubungan kembali dengan orang mati, misalnya: memberi makan, meminta petunjuk, memohon berkat dari orang yang sudah mati tersebut. Kita sebaiknya menyadari kuburan bukanlah tempat yang ideal untuk berdoa. Tempat berdoa yang paling kondusif adalah rumah dan gereja. Tanda penghormatan kita kepada orangtua yang sudah meninggal bukanlah terutama membangun megah atau sering mengunjungi kuburannya tetapi dengan menghayati hidup yang benar dan baik sesuai firman Tuhan dan teladannya.

8. PENGAKUAN IMAN HKBP

Konfessi HKBP pasal 16 menyatakan: Kita percaya dan menyaksikan bahwa manusia satu kali mengalami kematian dan sesudah itu penghakiman. (Ibrani 9:27). Manusia yang telah mati itu beristirahat dari seluruh pekerjaannya (Wahyu 14:13). Yesus Kristus adalah Tuhan orang yang hidup maupun mati. Bila kita mengenang orang yang sudah meninggal, sebetulnya kita hendak menyadarkan diri kita sendiri akan ajal atau akhir hidup kita dan untuk meneguhkan pengharapan kita akan persekutuan orang-orang percaya dengan Allah serta untuk menguatkan hati kita berjuang dalam realitas hidup ini. (Wahyu 7:9-17). Dengan ajaran ini kita menolak dan melawan ajaran animisme yang mengatakan bahwa roh-roh (tondi) orang yang sudah mati masih dapat berhubungan atau berinteraksi dengan manusia. Kita juga menolak ajaran yang mendoakan orang yang sudah mati. Sebab orang yang sudah mati menjadi wewenang dan urusan Tuhan.

Aturan - Aturan dalam Pemberian Ulos

Seperti telah kita terangkan terdahulu, ulos mempu­nyai nilai yang sangat tinggi dalam upacara Adat Batak. Tidak mungkin kita berbicara mengenai Adat Batak tanpa membicarakan ulos. Ulos, hiou, olis, abit godang atu uis kese­muanya adalah merupakan identitas orang Batak.

Di wilayah Toba, Simalungun dan Tanah Karo pada­ prinsipnya pihak Hula-hula lah yang memberikan kepada par­boru (dalam perkawinan). Sedangkan di wilayah Pakpak/Dairi dan Tapanuli Selatan pihak borulah yang memberikan ulos ke pada mora atau kula kula. Perbedaan spesifik ini bukanlah berarti mengurangi­ nilai dan makna suatu ulos dalam upacara adat. Di wilayah Toba misalnya yang berhak memberikan ulos ialah:

  1. Pihak Hula Hula (Mertua, Tulang, Bona Tulang, Bona ni ari dan Tulang rorobot).

  2. Pihak Dongan Tubu (Ayah, Saudara ayah, Kakek dan saudara pengantin dalam kedudukan yang lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).

  3. Pihak pariban (dalam urutan lebih tinggi dalam urutan kekeluargaan).

Adapun mengenai ale-ale (teman sejawat) yang sering kita lihat turut memberikan ulos, sebenarnya adalah di lu­ar tohonan Dalihan Natolu. Pemberian ale-ale sebaiknya benda apapun itu, diberikan dalam bentuk kado (dibungkus).

Dari uraian di atas jelas kelihatan bahwa yang ber­hak memberikan ulos adalah mereka yang mempunyai kedudukan yang lebih tinggi (dalam urutan kekeluargaan) dari si pene­rima ulos. Dalam pesta kawin misalnya tata urutan pemberian u­adalah sebagai berikut:

  1. Mula mula yang memberikan ulos adalah orangtua pengantin perempuan.

  2. Baru disusul oleh pihak tulang pengantin perempuan, termasuk tulang rorobot.

  3. Kemudian menyusul pihak dongan sabutuha dari orangtua pengantin perempuan yang dalam hal ini dise­but paidua (pamarai).

  4. Kemudian disusul oleh pariban yaitu boru hula-hula (orang tua pengantin perempuan).

  5. Baru yang terakhir adalah tulang pengantin la­ki-laki, setelah kepadanya diberikan bahagian dari sinamot yang diterima parboru dari par anak, dari jumlah yang disepakati sebanyak 2/3 dari­ pihak par boru dan 1/3 dari par anak.

Bagian ini disampaikan oleh orangtua pengan­tin perempuan kepada Tulang si anak (pengantin laki-laki) Inilah yang disebut “tintin marangkup”.

TATA CARA PEMBERIAN ULOS

Menurut tata cara Adat Batak setiap orang akan me­nerima minimum 3 macam ulos dari mulai lahir sampai ak­hir hayatnya. Ulos inilah yang disebut ulos na marsintu­hu yang dapat digolongkan sebagai ulos ni tondi, menurut falsafah Dalihan Natolu.

Ketiganya ialah:

  • Yang pertama diterima sewaktu dia baru lahir. Sekarang ini dikenal dengan ulos parompa. Dahulu di­kenal dengan ulos mangalo alo tondi.

  • Yang kedua diterima pada waktu dia memasuki ambang kehidupan baru (perkawinan) yang diterima dalam bentuk ulos hela. Dahulu disebut ulos marjabu bagi kedua pengantin (laki dan perempuan).

  • Yang ketiga adalah ulos yang diterimanya sewaktu dia meninggalkan dunia yang fana (ulos saput). Kedudukan seorang yang meninggal menentukan jenis ulos yang diterimanya sebagai saput, tergantung pada saat mana dia neninggal.

Bila seorang meninggal dalam usia yang masih muda atau meninggal tanpa meninggalkan keturunan (mate hadia­ranna) maka kepadanya diberikan ulos yang disebut “ulos ­par olang-olangan”.

Bila dia meninggal dan meninggalkan anak-anak yang masih kecil-kecil (sapsap mardum), bila laki-laki di sebut “matipul ulu”, bila perempuan disebut “marompas tataring” maka kepadanya diberi ulos saput.

Bila dia meninggal sari/saur matua maka dia men­dapat “ulos panggabei” yang diterima dari semua hula-hu­la baik hula-hulanya sendiri, hula-hula ni anak, maupun hula-hula cucunya. Biasanya ulos panggabei ini diterima oleh seluruh turunannya. Pada saat seperti inilah berja­lan ulos “JUGIA”. Sebagai catatan : maka sesuai dengan namanya “Ulos na so ra pipot” Ju­gia hanya dapat diberikan kepada orang tua yang turunan­nya belum ada yang meninggal (martilahu matua).

I. PADA WAKTU ANAK LAHIR

Bila anak lahir, ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, apakah anak yang lahir tersebut anak sulung atau tidak. Dan yang kedua, apakah anak tersebut anak sulung dari seorang anak sulung dari satu keluarga.

Pada punt pertama, bila yang lahir tersebut adalah anak sulung dari seorang ayah yang bukan anak sulung maka yang mampe goar disamping si anak, hanyalah orang tuanya saja (mar amani…).

Sedang bila anak tersebut adalah anak sulung dari seorang anak sulung pada satu keluarga maka yang mampe goar di samping si anak, juga ayah dan kakeknya (mar ama ni … dan Ompuni…).

Perlu diperhatikan pada gelar Ompu…Bila gelar tersebut mempunyai kata sisipan si… maka gelar diperoleh itu diperoleh dari anak sulung perempuan (Ompung Bao).

Sedang bilamana tidak mendapat kata sisipan si… maka gelar Ompu yang diterimanya berasal dari anak su­lung laki-laki (Ompung suhut).

Untuk punt pertama, maka pihak hula-hula hanya menyediakan 2 buah ulos yaitu ulos parompa untuk si anak dan ulos pargomgom mampe goar untuk ayahnya. Untuk si anak sebagai parompa dapat diberikan ulos mangiring dan untuk ayahnya dapat diberikan ulos suri suri ganjang atau sito luntuho.

Untuk punt kedua hula hula harus menyediakan ulos sebanyak 3 buah, yaitu ulos parompa untuk anak, ulos par gomgom untuk ayah dan ulos bulang bulang untuk ompungnya. Seiring dengan pemberian ulos kata kata ini sering diucapkan sbb:

“Ucok (Tatap). Sadarion nunga pinuka goarmu. Sai anggiat ma goar mi goar marsarak, goar na mura jou jou on, hipas hipas ho mamboan. Dison pasahaton nami ma tu ho ulos pangiring, asa mangiring anak dohot boru ho sian on tu joloan on. Horas ma”.

Catatan: Bila acara mampe goar ulos yang diberi­kan harus dari jenis Bintang Maratur. Tapi bila hanya sekedar memberi ulos parompa boleh ulos mangiring.

Di hamu hela/boru nami. Mulai sadari on marbonsir naung pinungka goar ni buha baju muna, sadarion ­mulai mampe goar hamu mar amani dohot mar ina ni….Dison pasahaton nami ma tu hamu ulos suri su­ri ganjang, asa ganjang umurmu mamboan goar pang­goari ni pahompu i. Hata ni umpama ma dohonon na­mi :

Tubu ma hariara, di atas ni tor na di ginjang, lehet ma i borotan ni horbo si opat pusoran. Mantak goar si jou jou on ma i, hipas jala mariang, goar na mura jouon, dirgak bohi mamboan.”

Kakek/nenek: Di hamu Lae dohot ito. Dibagasan sa­ darion ditonga ni jabu na marsangap na martua on, ima jabu sigomgom pangisi na on marlas ni roha hita, ala nunga jumpang na ni luluan, tarida na ji­nalahan. Mulai sadari on mampe goar do hamu Lae, Ito, mar Ompuni… ala marbonsir sian goar ni pa­hompunta na ta pungka sadari on. Hupasahat hami ma tu hamu ulos ragi-idup songon patuduhon balga ni roha nami. Hata ni umpama do­henan nami di hamu:

Andor hadumpang ma togu togu ni lombu, Saur matua ma hamu Lae Ito, mambo an goar i huhut mangiring-iring pahompu.

Begitulah antara lain tata caranya dan mengenai ­pepatah petitih biasanya terdiri dari 3 buah.

II. PADA WAKTU PERKAWINAN

Dalam upacara perkawinan maka pihak hula hula ha­rus menyediakan ulos si tot ni pansa yaitu:

  1. Ulos marjabu (hela dohot boru).

  2. Ulos pansamot/pargomgom untuk orang tua pengantin laki-laki.

  3. Ulos pamarai diberikan kepada Saudara yang le­bih tua dari Pengantin laki-laki atau saudara kandung ayah.

  4. Ulos Simolohon diberikan kepada iboto pengan­tin laki-laki atau bila belum ada yang menikah kepada iboto ayahnya.

Adapun ulos tutup ni ampang diterima oleh boru di ampuan hanya bila perkawinan tersebut dilakukan ditempat pihak keluarga perempuan (dialap jual). Bila perkawinan ­tersebut dilakukan ditempat keluarga laki-laki (ditaruhon jual) ulos tutup ni ampang tidak diberikan.

Sering kita lihat banyak ulos yang diberikan kepada pengantin oleh keluarga keluarga dekat. Dahulu ulos inilah yang disebut ragi ragi ni sinamot. Biasanya yang mendapat ragi ni sinamot (menerima sebagian dari sina­mot) memberi ulos sebagai imbalannya. Dalam umpama Batak disebut:

malo manapol - ingkon mananggal”

Umpasa ini mengandung pengertian orang Batak itu tidak mati terutang Adat. Tetapi dengan adanya istilah rambu pinudun yang dimaksudkan semula untuk mempersingkat waktu, berakibat kaburnya siapa penerima golo goli dari ragi ragi ni sinamot. Ini berakibat timbulnya kedudukan yang­ tidak sepatutnya (mar goli-goli) sehingga yang pantas dapat digantikan oleh undangan umum (ale-ale). Dengan da­lih istilah ulos holong memberikan pula ulos kepada Pe­ngantin. Padahal istilah ulos holong adalah di luar versi Dalihan Natolu.

Binanga ni Sihombing ma, binongkak di Tara­bunga, Tu sanggar ma amporik, tu lubang ma satua, sai sinur ma na pinahan, gabe na ni u1a.

Setelah diulosi kemudian dijemput sedikit beras (boras si pir ni tondi) ditaburkan baik kepada umum dengan mengucapkan “HORAS” tiga ka1i.

Kemudian menyusul pemberian ulos kepada orang tua pengantin laki-laki (wakilnya). Umpasa berikut sering disampaikan seiring dengan pemberian ulos :

Jongjong do hami dison lae, ito, pasahathon sada u1os na margoar ulos pansamot tu hamu siala naung hujalo hami sinamotmu, marbonsir diulaonta sada rion. Jala laos on ma ito, lae ulos pargomgom asa mu1ai sadarion, gomgomonmu ma anakmu dohot parumaen mu”.

Songon nidok ni umpasa ma :

manginsir ma sidohar, di uma ni Palipi, tu deak nama hamu marpinompar, jala bagasmu sitorop pangisi. Andor hudumpang ma togu togu ni lombu, sai saur matua ma hamu, Lae-ito, huhut mangiring iring pahompu.

Songon panutup ito :

Sahat sahat ni solu ma sahat tu bonte­an, nunga saut maksud dohot tahinta, sai sahat ma tu parhorasan, sahat panggabean.

Sesudah itu berjalanlah pemberian ulos (si tot ni pansa) kepada pamarai dan simolohon. pemberian ulos ini biasa­nya diwakilkan kepada suhut paidua. Setelah ulos ulos lainnya berjalan maka sebagai penutup adalah pemberian ulos dari tulang laki-laki di­sebut ulos panggabei. Ini dilaksanakan setelah acara pemberian “tintin marangkup”.

III. ULOS PADA UPACARA KEMATIAN

Ulos yang ketiga dan yang terakhir yang diberi­kan pada seseorang ialah ulos yang diterimanya pada waktu dia meninggal dunia. Tingkat kematian seseorang me­nentukan jenis ulos yang dapat diterimanya. Jika seorang mati muda (mate hadiaranna) maka ulos yang diterimanya, ialah ulos yang disebut ulos “parolang olangan dan biasanya dari jenis parompa. Bila seorang meninggal sesu­dah berkeluarga (matipul ulu, marompas tataring) maka ­kepadanya diberikan ulos saput dan yang tinggal (balu, janda) diberikan ulos tujung. Sedang bila orang mati sari/saur matua maka kepadanya diberikan ulos “panggabei”.

Khusus tentang ulos Saput dan tujung perlu dite­gaskan tentang pemberiannya. Menurut para orang tua, yang memberikan saput ialah pihak Tulang sebagai bukti bah­wa tulang masih tetap ada hubungannya dengan berenya. Sedang ulos tujung diberikan oleh pihak Hula-Hula. Ini penting untuk jangan lagi terulang pemberian yang salah. Tata Cara Pemberiannya :

Bila yang meninggal seorang anak (belum berkeluarga), ­maka tidak ada acara pemberian saput. Bila yang meninggal adalah orang yang sudah berkeluarga maka setelah hula hula mendapat/mendengar kabar tentang ini, maka di­sediakanlah sebuah ulos untuk tujung dan pihak Tulang menyediakan ulos saput.

Pada waktu pemberian saput dari Tulang:

Dison bere hupasahat hami dope sada ulos tu songon saput ni dagingmu, ulos parpudi laho mnopot sambulom. Songon tanda do on na dohot hami mar habot ni roha di halalaom. Pabulus roham, topot ma ingananmu rap dohot Tuhanta patulus pardalanmu”.

Kemudian pihak Hula Hula memberikan tujung:

Sadarion (ito, hela) pasahaton nami do tuho ulos tujung. Beha bahenon (ito, hela), nunga songoni ­huroha bagianmu, marbahir siubeonmu, sambor ni­pim mabalu ho. Alani i unduk ma panailim marnida halak, patoru ma dirim marningot Tuhan. Songon ­nidok ni umpasama dohonon nami” :

Hotang binebe bebe, hotang pinulos-pulos, Unang iba mandele, ai godang do tudos-tudos.

Setelah beberapa hari berselang maka dilanjutkan dengan acara mengungkap tujung yang dilakukan oleh pihak Hula ­Hula. Mengenai waktunya tergantung kesepakatan kedua belah pihak.

Hula-hula menyediakan beras dipiring, air bersih mencuci muka dari air putih satu gelas. Acara di­buat pada waktu pagi (parnangkok ni mata ni ari). Kata-kata ini mengiringi acara tersebut :

Sadarion ungkapon nami ma tujung on sian simanjujungmu. Asa ungkap na ari matiur, ungkap silas ­ni roha tu hamu di joloanon, Husuapi ma (dainang/helangku) asa bolong sude ilu ilum, na mambahen­ golap panailim”.

Sai bagot na ma dungdung ma tu pilo-pilo na marajar, sai mago ma na lungun tu joloanon, ro ma na jagar.

Dison muse nek sitio-tio inum (dainang, laengku) ma on, sai tio ma panggabean, tio parhorasan di hamu tu joloan on. Huhut dison boras si pir ni tondi, sai pir ma nang tondim ;

Martantan ma baringin, marurat jabi jabi, horas ma tondi madingin, tumpakon ni Mulajadi.

Beras kemudian dijemput lalu ditaburkan di atas kepala sebanyak tiga kali. Biasanya seluruh anak yang ditinggal si mati dicuci mukanya dan ditaburkan beras di atas ke­palanya.

Dahulu kepada si pemberi ulos biasanya diberikan ­piso piso sebagai panggarar adat. Sekarang ini sering­diganti dengan uang.

MEMBERI ULOS PANGGABEI

Bila seorang orang tua yang sari/saur matua me­ninggal dunia, maka seluruh hula hula akan memberi ulos yang disebut ulos panggabei. Dan biasanya ulos ini ti­dak lagi diberikan kepada yang meninggal akan tetapi kepada seluruh turunannya (anak, pahompu dan cicit).

Kata kata berikut mengiringi pemberian ulos ter­sebut :

Di hamu pomparan ni Lae nami (Amang boru) on. Di son hupasahat hami tu hamu, sada ulos panggabei. Ulos on ulos panggabei, Sai mangulosi panggabean ma on, mangulosi parhorason, mangulosi daging do hot tondimu hamu sude pomparan ni Lae (amang bo­ru) on. Horas ma dihita sude …”

Biasanya ulos ini jumlahnya sesuai dengan urutan hula hula mulai dari hula hula, bona tulang, bona niari dan seluruh hula hula anaknya maupun hula hula cucunya.

Acara kematian untuk orang tua seperti ini mema­kan waktu yang sangat lama dan biaya yang cukup besar.



Sunday, February 22, 2009

Kedai-32

Anda akan kecele bila mengatakan ini adalah nomor partai peserta pemilu. Nomor 32 ini adalah merek dari sebuah kedai (lapo, bahasa Batak Toba) yang diusahakan oleh pemiliknya, yaitu pasangan dari Pak Simanjuntak (69 tahun) dan isterinya Ibu Siahaan (65 tahun) yang sudah bergelar Ompu Anju (sudah mempunyai cucu).
img_0808-img_0806
Disebut lapo 32 ce-je, adalah mengutip nomor 32 dan aksara CJ dari dalam erek-erek toto yang menyimbolkan ular. Dikedai ini dijual dan dihidangkan masakan dari daging ular dan daging biawak dan ini telah mereka lakukan sejak 30 tahun yang lalu.
Hidangan daging ular ataupun daging biawak telah siap dimasak dan mulai dijual dari jam 1.00 siang hingga jam 10.00 malam. Pada malam harinya disajikan bersama dengan tuak. Kedai ini berlokasi di jalan Parapat simpang menuju desa Tambunan di Pematangsiantar.
img_0804
Ibu Siahaan berkata ; “Dalam sehari dapat kita memasak 7-10 ekor ular dan 2-3 ekor biawak”. “Selain untuk dijual dikedai juga kita menjual dagingnya kebeberapa kedai diberbagai daerah seperti ke Samosir, Toba, Simalungun dan Tanah Karo”, ujar Ibu Siahaan sambil menunjukkan list pelanggannya.
Ibu Siahaan mengajak saya untuk mengunjungi rumahnya, yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kedainya. Dia memperlihat sejumlah persediaan daging ularnya yang diawetkan dalam pendingin dan sekaligus memperlihatkan kulit ular dan biawak yang sedang dan telah diawetkan.
img_0809-img_0813
“Mari kita kebagian belakang” ajak ibu Siahaan. “Buaya ini telah kami pelihara sekitar 13 tahun, sejak dari kecil hingga sebesar sekarang ini”, “Dulunya ada sepasang, tetapi seekor diantaranya telah mati”. Ops,… apa enggak berbahaya ?. Oh, enggaklah katanya dengan yakin. Buaya inilah yang akan memakan limbah berupa potongan-potongan daging termasuk kepala ular, inikan pengolahan limbah secara alami, katanya.
img_0810-img_0812
Lebih lanjut, ibu Siahaan menunjukkan deretan botol didalam etelase yang ada dirumahnya. ” Itu adalah minyak ular, sangat baik digunakan sebagai minyak urut” katanya menjelasnya. Harganya Rp 100.000 perbotol. Apakah minyak ular ini dijual didalam botol antik itu? Oh tidak, botol antik itu tidak dijual, penjualan minyak ular hanya dalam botol bir biasa.
img_0817-img_0815
“Memelihara buaya dan menjual daging ular ini legal” katanya sambil menunjukkan surat yang berhubungan dengan itu yang dipajangkannya dietelase dirumahnya. Ular dan biawak ini diperoleh dari hutan di propinsi lain.
Sambil berjalan kembali ke-kedainya : Ibu Siahaan menceritakan kisah 30 tahun yang lalu. Diawali dengan kunjungan seorang teman orang China yang membawa ular dan memintakan agar dia memasak daging ular tersebut. Semula dilakukan dengan rasa berat hati, tetapi ternyata daging ular ini disukai dan kedainya bertambah ramai dengan pengunjung yang ingin menikmati daging ular. “Saya tidak menyangka sama sekali bahwa untuk masa selanjutnya saya akan terus menjual daging ular, hingga hari ini, kata Ibu Siahaan.
Dulu selain menjual daging ular, kamipun menjual daging labi, dan tenggiling. Namun sejak ditetapkannya labi dan tenggiling sebagai fauna yang dilindungi, kita tidak menjualnya lagi, jelasnya.

Makanan Khas Batak - Naniura

Hidangan ini merupakan salah satu dari boga-budaya etnis yang menyebut dirinya “halak-hita” (suku Batak), sangat populer dan kegemaran khususnya didaerah Toba. Katanya,….didaerah Humbang dan Silindung penganan ini cukup dikenal namun kurang populer. Saya tidak terlalu ’sreg’ kata Sidabutar yang berasal dari Samosir. Penganan ini sama sekali tidak dimasak. (semacam sashimi)
Proses ‘matang’ terjadi berkat resapan dari bumbu,…….. namanya nadiura.
nadiura-6-nadiura-51.
Bahan-Bahan :
-ikan mas (dalam foto), ikan ihan ataupun ikan lele.
-asam jungga, yang dikupas dan diusahakan bijinya jangan sampai masuk kedalam yang dapat menimbulkan rasa pahit.
-andaliman (disebut juga itir-itir).
-kemiri.
-lengkuas.
-kunyit.
-rias.
-bawang merah dan bawang putih.
-cabe merah (dalam foto), ataupun cabe rawit.
nadiura-9-nadiura-111
Cara memasak :
Pengelolaan :
-Ikan mas disiangi sisiknya dan dibelah dua, tulang ikan dikeluarkan, selanjutnya diberikan garam dan asamnya diperas.
-Kemirinya digongseng, riasnya direbus, cabe dan andaliman digiling, jahe dan kunyitnya juga digiling.
-Satu persatu bumbu dioleskan kepermukaan daging ikan.
-Dibiarkan untuk satu jam.
-Siap untuk dihidangkan.
nadiura-15
Siap disajikan, disatu pihak mengatakan jangan direndam berlama-lama karena akan hilang rasa manisnya ikan, sedang satu pihak lagi mengatakan tunggu dulu supaya bumbunya meresap. Yah semuanya tergantung kepada indera pengecapan masing-masing yang tentu akan berbeda. Tetapi, sebagian besar dari mereka menyimpulkan sebagai penganan yang enak.
nadiura-1
Untuk pesanan.
nadiura-21

Pustaha Batak


Naskah kuno merupakan salah satu peninggalan budaya masa silam yang perlu dilestarikan. Namun bagi kita anak bangsa, akan sulit menemukan Naskah-Naskah kuno Nusantara secara utuh di Bumi Nusantara. Hal ini selain minimnya kepedulian untuk mengapresiasikan dan melestarikannya, juga dikarenakan banyak naskah kuno asal Indonesia bermukim di mancanegara sejak ratusan tahun lalu. Pada Komunitas Batak yang mempunyai beberapa etnis, seperti Mandailing, Simalungun, Karo, Pakpak, Angkola serta Batak Toba di Sumatera Utara, mempunyai naskah kuno yang ditulis pada lembaran kayu ulim yang panjang berlipat-lipat dengan tinta mangsi yaitu hasil tampungan asap dari pembakaran kayu jeruk purut dengan pena bulu ayam, atau campuran bahan getah sona, air tebu, dawat, air getah unte hajor, bunga sapa, air jahe, merica serta minyak; ada juga dari bahan lain seperti bambu sebagai pengganti kertas. Naskah Kuno inilah yang disebut PUSTAHA LAKLAK dengan memakai aksara batak dengan tahun penulisannya tidak diketahui.Didalam Pustaha Laklak memuat banyak aturan yang tentunya bernorma pada kepercayaan Sipelebegu dan sebagainya yang merupakan kepercayaan asli Orang Batak.

Kepercayaan Orang Batak meyakini adanya Sang Ilahi dengan sebutan Debata (Naibata menurut Dialek Simalungun, yang mungkin saja sama dengan Dewata) dengan meyakini adanya 3 Dimensi Alam yaitu Banua Ginjang yaitu Dimensi Ilahiah , Banua Tongah yaitu Dimensi Korelasi Insani & Makhluk Hidup lainnya serta Banua Toru(h) yaitu Dimensi Spiritual. Ketiganya tersimbol dalam Tondi (tonduy menurut dialek simalungun; merupakan spirit dari pada seluruh semangat), Sahala (merupakan power dari pada seluruh kekuatan) dan Begu ( merupakan simbol kegaiban). Pustaha Laklak banyak memuat aturan-aturan mengenai mobilitas orang Batak masa itu; kita ambil contoh saja mengenai Keparanormalan dan Pengobatan Tradisi.

Masyarakat Rumpun Batak, dahulu, menggunakan tulisan hanya untuk:
1. Ilmu Supranatural (Hadatuon)
2. Surat (kebanyakan bentuk surat ancaman)
3. Bagi Orang Karo, simalungun dan Angkola-Mandailing, ada ditemukan karya Sastra berbentuk Ratapan (Orang Karo menyebutnya Bilang-Bilang, Simalungun: Suman-Suman, Tangis-tangis, Angkola-Mandailing: Andung), Karya Sastra berbentuk ratapan ini biasa ditulis pada wadah bambu atau lidi tenun.

Prihal ilmu Supranatural (Hadatuon), dalam Pustaha Laklak bisa kita kelompokkan berbagai Ilmu-Ilmu Supranatural Batak, sebagai berikut:

1. Pangulubalang
2. Tunggal Panaluan
3. Pamunu Tanduk
4. Pamodilan/Tembak
5. Gadam
6. Pagar
7. Sarang Timah
8. Simbora
9. Songon
10. Piluk-piluk
11. Tamba Tua
12. Dorma
13. Paranggiron
14. Porsili
15. Ambangan
16. Pamapai Ulu-ulu
17. Ramalan Perbintangan , seperti: Pormesa na Sampulu Duwa, Panggorda na Ualu, Pehu na Pitu, Pormamis na Lima, Tajom Burik, Panei na Bolon, Porhalaan, Ari Rojang, Ari na Pitu, Sitiga Bulan, Katika Johor, Pangarambui dan lain-lain
18. Ramalan memakai Binatang, seperti: Aji Nangkapiring, Manuk Gantung, Aji Payung, Porbuhitan, Gorak-gorahan Sibarobat dan lain-lain
19. Ramalan Rambu Siporhas, Panambuhi, Pormunian, Partimusan, Hariara masundung di langit, Parsopouan, Tondung, Rasiyan, dan sebagainya.

Banyak kita temukan ilmu untuk menyerang musuh dan santet. bisa dalam bentuk racun ataupun ilmu lainnya. Kita contohkan saja:

PANGULUBALANG,
yaitu washilah yang dijadikan hulubalang Sang Datu (Dukun) untuk menghancurkan musuh dan mahluk gaib lainnya.
Seorg anak kecil diculik, lalu diasuh oleh si Datu. Segala maunya dituruti asal bisa patuh. Pada saat yang ditentukan, kemudian sianak dikorbankan, dgn cara dimasukkan kedalam mulutnya berupa cairan timah yang mendidih. Kemudian mayatnya dipotong-potong dan dicampur dgn beberapa ramuan dan dibiarkan membusuk. Air fermentasi yang keluar dari mayat anak tadi disimpan didalam cawan, lalu sisanya dibakar untuk mendapatkan abunya. Untuk memanggil Sianak yang sudah dikorbankan tadi, disiapkanlah patung. Patung inilah yg disebut Pangulubalang. Patung ini berfungsi untuk penolak bala, sedang datu bisa memanfaatkannya untuk disuruh menyerang musuh, berupa santet.

TUNGGAL PANALUAN,
berupa tongkat sakti yang dimiliki Datu-datu Batak, diyakini bahwa tongkat ini hidup dan bisa disuruh.

PAMUNU/PEMBUNUH TANDUK,
ilmu yg berfungsi untuk menetralkan ilmu kiriman lawan. bisa juga digunakan untuk menyerang musuh. ini berupa tanduk.

PAMODILAN/TEMBAK,
adalah ilmu yg digunakan untuk menembak musuh baik dengan menggunakan senjata (bodil) maupun dengan syarat atau tabas-tabas (mantra) tanpa menggunakan senjata.

GADAM,
ilmu racun sehingga kulit musuh akan seperti penderita kusta.

PAGAR (PENOLAK BALA),
Okultisme Batak ini, dibuat dari berbagai bahan dengan waktu dan cara pembuatannya yg sangat mengikuti prosesi ritual. Biasanya menggunakan ayam, lalu bahan dibawa ke tempat yang dianggap keramat (sombaon, sinumbah).
Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk membuat ramuan Pagar ini. Ramuan ditumbuk halus seperti pasta atau bubuk yg disimpan dalam Naga Morsarang (tanduk kerbau yg berukir).
“Pagar hami so hona begu so hona aji ni halak”, ini contoh tabas (mantra) yang digunakan.
Penggunaan penolak bala ini, biasanya diberikan pada pasien perorangan ataupun kolektif, seperti; Pagar Panganon (Ilmu tolak bala berupa makanan yg wajib dimakan pasien), Pagar Sihuntion (dijunjung atau digantung oleh perempuan hamil), Pagar ni halang ulu modom ( Digantung didekat tempat tidur org yg sakit), Pagar Sada bagas (Tolak bala sekeluarga), Pagar Sada huta (Ruwatan Kampung).

AZIMAT,
Dulu Orang Batak akan lebih ‘pede’ jika pakai jimat. Kontribusi Aceh, Melayu Sumatera Timur dan Minangkabau sangat besar terhadap keberadaan jimat bagi Orang Batak. Simbora adalah azimat asli Batak yang terbuat dari timah hitam.
Selain itu, kita temukan juga azimat dari gigi binatang; seperti harimau, beruang. Ada juga jimat agar tidak mempan peluru yg biasa terbuat dari tulang kerbau yg dirajahi; azimat ini disebut Sarang Bodil atau Sarang Tima.

SONGON/POHUNG/PILUK-PILUK,
Adalah sejenis patung (gana-gana) yang diletakkan di ladang untuk melindungi dari pencuri.
“Surung ma ho Batara Pangulubalang ni pohungku, ama ni pungpung jari-jari, ina ni pungpung jari-jari, Batara si pungpung jari. Surung pamungpung ma jari-jari ni sitangko sinuanku onon, surung bunu”, ini adalah mantra (tabas) Pohung agar pencuri menjadi lumpuh jari-jarinya, bahkan mati.

Dalam kajian saya mengenai Pustaha Laklak Simalungun, sebagian besar membahas dunia metafisis ala Simalungun seperti Tabas-tabas (mantera - mantera), Takkal ni Bisa ( Penawar Racun/santet dan tata cara meracun/santet), Pulungan (Jamu-jamuan), Panjahaion Ompak ni Ipon (Pelajaran Memprediksi dgn serpihan gigi), Panjahaion Parsopoan (Pelajaran Fengshui ala simalungun), Rajah, hari baik dan sebagainya.

Disini saya menukil hanya sekelumit contoh tentang isi Pustaha Laklak simalungun, misalnya:

1. Tentang Fengshui:

“Jaha sopo iholang-holang batang-batang sada, janah abing reben i desa otara Rohma naosuman bani oppungni sopou, matean oppung ni sopo ale amang datu.
Jaha sopou ipajongjong bani suhi-suhi dalan nabolon topat bani topi dalan, rohma nasosuman bani oppunganni sopou inon. Buei marsilaosan begu monggop bani sopou inon, matean oppungni sopou inon”.

kira-kira bermakna:
“Jika sebuah bangunan didirikan diapit balok besar, satu diantara balok terletak pada kemiringan disebelah utara bangunan, pemiliknya tidak akan berhoki.
Jika bangunan ditepi jalan raya pada posisi sudut jalan umum, maka pemilik akan ditimpa musibah karena banyak dilintasi energi negatif”.

2. Tentang Santet:

Memakai bahan kulit Harimau, Tanah Kuburan dari Pusara yg baru satu hari, kulit Musang, Tali Pengikat Senjata Tajam, Buah Enau yg berjatuhan dan Pucuk kain Pangulu Balang.
semua Bahan disatukan dan dimasukkan kedalam Labu Muda sebagian, dan sebagian disatukan dengan kulit Harimau serta sebagian untuk bahan taburan. Lalu Manterai dan kemudian disemburkan pada bahan kulit Harimau dan Labu Muda:
“surung maho botara ni pangulu balang nina gurunghu, pangulu balang ni pagar pangorom, amani si porhas manoro, inani si porhas manoro botara porhas manoro, surung porhas manoro dihosah ni musuhu…., surung bunuh ni…..surung ma ho botara pangulu balang nina gurunghu”

3. Tentang Pelet:

Salah satu cara pelet dengan ramuan yaitu menggunakan bahan yang melekat pada kayu, yang melekat pada batu, yang melekat di pohon enau, pada lumpang, serta segala sesuatu yang bersifat lengket. Seluruh bahan digiling halus.

abjad-simalungun

Pustaha Laklak memakai bahasa dan Aksara Batak. Aksara Batak yang mempunyai ciri-ciri tersendiri antara Batak Toba, Simalungun, Karo, Pakpak, Mandailing/Angkola (di Simalungun disebut Puang ni Surat Sapuluh Siah krn berjumlah 19 huruf) seperti gambar diatas tampak 19 huruf Simalungun itu yaitu:

A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U dan Nya.

Untuk membentuk menjadi satu kata, terkadang dibutuhkan pangolat ( anak huruf sebagai tanda baca), seperti dlm contoh: kata “Ki Sawung”, dibutuhkan huruf Ha (bs bermakna Ka), huruf Sa, Wa dan Nga. Huruf Ha diberi anak huruf agar berbunyi Ki, Sa tetap, huruf Wa dan Nga diberi anak huruf kemudian di gabungkan karena bersuku kata sama sehingga berbunyi WUNG.

Dalam sebuah Pustaha laklak Simalungun, ada Tabas (mantra) yang menggunakan Bahasa Huruf, begini bunyi mantranya:

“A, Ha, Ba, Pa, Na, Wa, Ga, Ja, Da, Ra, Ma, Ta, Sa, Ya, Nga, La, I, U, Nya, harannya hita sabapa sainang sanawa, nini pormula jadi ni surat sapulu siyah, samula, sumili yah na ho begu, sumala sumili, yah ho aji ni halak. Borkat ma hamu Guru Sinalisi, na miyan Naibata diyatas, borkat mahamu Guru Siniyaman, na miyan Naibata ditongah, borkat ma hamu Guru Mangontang Dunia, na miyan Naibata ditoruh, harannya ham na mampogang hanami manusiya, pogang begu, pogang aji ni halak, iya ma tuwanku jungjunganku”.

Mantera ini untuk menjauhkan kejahatan dan guna-guna.

Diyakini, Aksara Simalungun ini memiliki pemimpin-pemimpin gaib, dalam pustaha laklak diterangkan nama - nama pemimpin2 gaibnya yaitu:

RAJA I DABIYA, TUAN DIBORAKU, ASAL NABU, SITUNAGORI, TUWAN NABI ALLI, ALAM SADIYA, ALAM SADIA SAH, ALAM JAHARI, TUWAN MARJANDIHI, RAJA SIPORAT NANGGAR, RAJA ENDAH DUNIYA, RAJA DI PUSUK SUNGEI, TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, TUWAN SI NAHAR NANGKIR, OMPUNG ANGLAH TAALA, PUWANG AJI BORAIL.

Bagi murid-murid yang belajar dunia spiritual Simalungun, dianjurkan untuk menghormati pimpinan-pimpinan gaib dari abjad diatas, dengan ritual khusus yg menyediakan sesaji berupa Ayam Merah yang disusun diatas daun dan diletakkan di tikar yang masih baru, sira pege yaitu cocolan garam, lada dan jahe 7 iris, bunga kembang sepatu 7 tangkai. Semua bahan ini dilingkari dengan benang putih. Masih dalam pustaha laklak, bahan diatas dilengkapi dengan nira, air, rudang, minyak saloh, beras sangrai yang dibuat tepung, 19 lembar sirih, kue nitak (tepung beras dicampur gula aren) serta huruf-huruf yang telah disediakan.

Seluruh murid mengelilingi tikar tempat sesaji dan huruf yang diletakkan, lalu sang guru membacai mantra:
“Borkat ma hamu RAJA I DABIYA, Borkat ma hamu TUAN DIBORAKU, Borkat ma hamu ASAL NABU, Borkat ma hamu SITUNAGORI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALLI, Borkat ma hamu si ALAM SADIYA, Borkat ma hamu si ALAM SADIA SAH, Borkat ma hamu si ALAM JAHARI, Borkat ma hamu TUWAN MARJANDIHI, Borkat ma hamu RAJA SIPORAT NANGGAR, Borkat ma hamu RAJA ENDAH DUNIYA, Borkat ma hamu RAJA DI PUSUK SUNGEI, Borkat ma hamu TUWAN NABI ALI MUHAMMAD, Borkat ma hamu TUWAN SI NAHAR NANGKIR, Borkat ma hamu OMPUNG ANGLAH TAALA, Borkat ma hamu PUWANG AJI BORAIL, harannya ham Puwang ni Surat Sapuluh Siyah, na mannaikhon hosah, iya Tuwanku Jungjunganku” .

Lalu murid disuruh memilih huruf yang disukainya secara intuitif. huruf inilah yang bisa dijadikannya sebagai washilah berupa jimat dan sebagainya untuk menyatukan diri dengan alam gaib. huruf yang dipilih bisa di jadikan mantra handalan. Dalam Pustaha Laklak, ada beberapa mantra yang digunakan dengan membaca huruf yang dipilih tadi, membacanya dengan mandoding yaitu bersenandung; misalnya untuk Pagar Pertahanan.

rajah-abc

Di dalam pustaha laklak juga banyak memuat rajah-rajah untuk kepentingan ritual supranatural. di gambar atas ada beberapa contoh rajah yang bisa dipergunakan, yaitu: pada gambar (a), (b) & (c) adalah merupakan rajah pulungan ni bulung-bulung tawar atau ramuan daun-daun tawar yang saya kutip dari Pustaha Laklak Simalungun. Rajah (a) berfungsi untuk menyerang paranormal yang membuat seseorang lama berumah tangga, Rajah (b) untuk meminta bantuan gaib Tuan Sordibanua, Rajah (c) ditulis di daun kincung untuk penghukum dan sekaligus bisa untuk pengasih, sedang Rajah (d) yang saya kutip dari Pustaha Laklak Simalungun adalah berfungsi untuk santet.

Rajah-rajah dalam Pustaha Laklak, merupakan ornamen indah bergaya Batak, namun ada juga pengaruh kebudayaan non-Batak, seperti unsur Melayu-Islam. Coba kita amati beberapa Rajah Simalungun berikut, yang saya ambil dari sebuah Pustaha Laklak Simalungun:

rajah-simalungun

Disamping memuat hal ikhwal Supranatural dan pengobatan, Pustaha Laklak juga memuat hal lain; seperti Pustaha simalungun “Parpadanan na Bolag” yang mengisahkan asal usul marga Damanik sebagai Penguasa Dinasti Nagur. Pustaha ini mungkin saja ditulis oleh pejabat kerajaan atau bisa saja ditulis orang luar kerajaan pada masa atau akhir keruntuhan kerajaan pada penghujung abad XIV, kesemuanya bertujuan Habonaron do Bona yaitu Kebenaranlah yang mesti ditegakkan.

Partuturan Ni Halak Batak










1. Ahu = aku, saya
2. Anak = anak laki-laki
3. Amang >damang >damang parsinuan =ayah, bapak.

4. Amang, sapaan umum menghormati kaum laki-laki.
5. Amanta >amanta raja, dalam sebuah acara pertemuan.
6. Amanguda, adik laki-laki dari ayah kita.
7. Amanguda, suami dari adik ibu kita.
8. Amangtua, abang dari ayah kita.
9. Amangtua, suami dari kakak ibu kita sendiri.
10. Amanguda/amangtua, suami dari pariban ayah kita.
11. Angkang = abang. Angkangdoli, abang yang sudah kawin.
12. Angkang boru, isteri abang. Kakak yang boru tulang kita.
13. Anggi, adik kita (lk), adik (pr) boru tulang kita.
14. Anggi doli, suami dari anggiboru. Adik (lk) sudah kawin.
15. Anggiboru, isteri adik kita yang laki-laki.
16. Amangboru, suami kakak atau adik perempuan ayah kita.
17. Amangtua/inangtua mangulaki, ompung ayah kita.
18. Ama Naposo, anak (lk) abang/adik dari hula-hula kita.
19. Angkangboru mangulaki, namboru ayah dari seorang perempuan.
20. Ampara, penyapa awal sealur marga, marhaha-maranggi.
21. Aleale, teman akrab, bisa saja berbeda marga.
22. Bao, amangbao, suami dari eda seorang ibu.
23. Bao, inangbao, isteri dari tunggane kita (abang/adik isteri).
24. Bere, semua anak (lk + prp) dari kakak atau adik prp kita.
25. Bere, semua kakak/adik dari menantu laki-laki kita.
26. Boru, semua pihak keluarga menantu lk kita / amangboru.
27. Boru, anak kandung kita (prp) bersama suaminya.
28. Borutubu, semua menantu (lk) / isteri dari satu ompung.
29. Boru Nagojong, borunamatua, keturunan namboru kakek.
30. Boru diampuan, keturunan dari namboru ayah.
31. Bonatulang, tulang dari ayah kita.
32. Bona niari, tulang dari kakek kita.
33. Bonaniari binsar, tulang dari ayah kakek kita.
34. Damang = ayah = bapak

35. Damang, sebutan kasih sayang dari anak kepada ayah mereka.
36. Damang, digunakan juga oleh ibu kepada anaknya sendiri.
37. Dainang, sebutan kasih sayang anak kepada ibu mereka.
38. Dainang, digunakan uga oleh ayah kepada anak perempuannya.
39. Daompung, baoa+boru, kakek atau nenek kita.
40. Datulang, sebutan hormat khusus kepada tulang.
41. Dahahang (baoa+boru), abang kita atau isterinya.
42. Dongan saboltok, dongan sabutuha (sebutan lokal).
43. Dongantubu, abang adik, serupa marga.
44. Dongan sahuta, kekerabatan akrab karena tinggal dalam satu huta.
45. Dongansapadan, dianggap semarga karena diikat oleh padan/janji.
46. Eda, kakak atau adik ipar antar perempuan.
47. eda, sapa awal antara sesama wanita.
48. Hahadoli, sebutan seorang isteri terhadap abang (kandung) suaminya.
49. Haha doli, abang dari urutan struktur, dapat juga tidak semarga lagi.
50. Haha = abang. No. 48 & 49, berbeda sekali artinya.
51. Hahaboru, isteri abang kita, yang dihormati.
52. Haha Ni Hela, abang dari mantu kita.
53. Haha Ni Uhum, paling tua dalam silsilah sekelompok.
54. Hula-hula, keluarga abang/adik dari isteri kita.
55. Hela, menantu (lk) kita sendiri.
56. Hela, juga terhadap suami anak abang/anak adik kita.
57. Hami, sebutan kita terhadap pihak sebelah kita sendiri.
58. Hamu, sebutan atas pihak lawan bicara.
59. Hita, menunjuk kelompok kita sendiri.
60. Halak, menunjuk kepada kelompok orang lain.
61. Ho, kau, terhadap satu orang tertentu, tutur bawah kita.
62. Halak i, dihormati karena pantangan, terhadap bao, parumaen.
63. Ibebere, keluarga dari suami bere kita yang perempuan.
64. Ito, iboto, kakak atau adik perempuan kita, serupa marga.
65. Ito, tutur sapa awal dari lk terhadap prp atau sebaliknya.
66. Ito, panggilan kita kepada anak gadis dari namboru.

67. Iba, = ahu, saya.
68. Ibana, dia, penunjuk kepada seseorang yang sebaya kita.
69. Inang=dainang, ibu. Juga sebutan kasih kepada puteri kita.
70. Inang(simatua)=ibu mertua.
71. Inangbao, isteri dari hula-hula atau tunggane kita.
72. Inanta, sebutan penghormatan bagi wanita, sudah kawin.
73. Inanta soripada, kaum ibu yang lebih dihormati dalam acara.
74. Inanguda, isteri dari adik ayah. Ada juga inanguda marpariban.
75. Inangtua, isteri dari abang ayah. Juga inangtua marpariban.
76. Inangbaju, semua adik prp dari ibu kita, belum kawin.
77. Inangnaposo, isteri dari paraman/amangnaposo kita.
78. Indik-indik, cucu dari cucu prp kita. Sudah amat jarang ada.
79. Jolma, jolmana, = isterinya. Jolmangku = isteriku.
80. Lae, tutur sapa anak laki-laki tulang dengan kita (lk).
81. Lae, tutur sapa awal perkenalan antara dua laki-laki.
82. Lae, suami dari kakak atau adik kita sendiri (lk)
83. Lae, anak laki-laki dari namboru kita (lk)
84. Maen, anak-gadis dari hula-hula kita.
85. Marsada inangboru, abang adik karena ibu kita kakak-adik.
86. Namboru, kakak atau adik ayah kita. Sudah kawin atau belum.
87. Nantulang, isteri dari tulang kita.
88. Nasida, penunjuk seseorang yang dihormati. Atau = mereka.
89. Nasida, halk-nasida, amat dihormati karena berpantangan.
90. Natoras, orangtua kandung. Angkola = natobang.
91. Natua-tua, orangtua yang dihormati. Misalnya: amanta natua-tua i.
92. Nini, anak dari cucu laki-laki.
93. Nono, anak dari cucu perempuan kita
94. Ondok-ondok, cucu dari cucu laki-laki kita. Sudah jarang.
95. Ompung, ompungdoli, ompung suhut, ayah dari bapak kita.
96. Ompungbao, daompung, orangtua dari ibu kandung kita.
97. Ompungboru, ibu dari ayah kita.
98. Pahompu, cucu. anak - anak dari semua anak kita.
99. Pinaribot, sebutan penghormatan kepada wanita dalam acara.
100.Paramaan, anak (lk) dari hula-hula kita.
101.Parboruon, semua kelompok namboru atau menantu (lk) kita.
102.Pargellengon -idem- tetapi lebih meluas.
103.Parrajaon, semua kelompok dari hula-hula dan tulang kita.
104.Pariban, abang-adik karena isteri juga kakak-beradik.
105.Pariban, semua anak prp dari pihak tulang kita.
106. Pariban, anak perempuan yang sudah kawin, dari pariban mertua perempuan.
107. Parumaen = mantu prp. isteri anak kita.
108. Pamarai, abang atau adik dari suhut utama, orang kedua.
109. Rorobot, tulangrorobot, tulang isteri (bukan narobot).
110.Sinonduk = suami. Parsonduk bolon = isteri, pardijabu.
111.Simatua doli dan simatua boru = mertua lk dan prp.
112.Simolohon = simandokhon = iboto, kakak atau adik lk.
113.Suhut, pemilik hajatan. Paidua ni suhut, orang kedua.
114.Tulang, abang atau adik dari ibu kita.
115.Tulang/nantulang, mertua dari adik kita yang laki-laki.
116.Tulang naposo = paraman yang sudah kawin.
117.Tulang Ni Hela, tulang dari pengantin laki-laki.
118.Tulang/nantulang mangulaki, panggilan cucu kepada mertua.
119.Tunggane, semua abang dan adik (lk) dari isteri kita.
120.Tunggane, semua anak laki-laki dari tulang kita.
121.Tunggane doli, amang siadopan, amanta jabunami = suami
122.Tunggane bour, inang siadopan, pardijabunami, = isteri.
123.Tunggane huta, raja dalam sebuah huta, kelompok pendiri huta.
124.Tuan doli = suami.
125.Tuan boru = isteri.

Pembagian Waktu Orang Batak



















Dalam Bahasa Batak, ada istilah yang menyatakan waktu (jam) dalam hari. Dalam bahasa batak di kenal istilah “
tikki na lima“:

Sogot” adalah antara pukul 05.00 s/d pukul 07.00 pagi

Pangului” adalah antara pukul 07.00 s/d pukul 11.00 pagi

Hos” adalah antara pukul 11.00 s/d pukul 13.00 siang

Guling” adalah antara pukul 13.00 s/d pukul 17.00 sore

Bot” adalah antara pukul 17.00 s/d pukul 18.00 petang

Kalau istilah diatas menyatakan waktu dalam range, maka ada lagi istilah yang spesifik menunjuk jam berapa. Contoh:

Jam 01 : Haroro NI Panakko

Jam 02 : Tahuak Manuk Sahali

Jam 03 : Tahuak Manuk Dua Hali

Jam 04 : Buha-Buha Ijuk

Jam 05 : Torang Ari

Jam 06 : Binsar Mata Ni Ari

Jam 07 : Pangului

Jam 08 : Turba

Jam 09 : Pangguit Raja

Jam 10 : Sagang Ari

Jam 11 : Huma Na Hos

Jam 12 : Hos / Tonga Ari

Jam 13 : Guling

Jam 14 : Guling Dao

Jam 15 : Tolu Gala

Jam 16 : Dua Gala

Jam 17 : Sagala

Jam 18 : Mate Mata Ni Ari

Jam 19 : Samon

Jam 20 : Hatiha Mangan

Jam 21 : Tungkap Hudon

Jam 22 : Sampe Modom

Jam 23 : Sampe Modom Na Bagas

Jam 24 : Tonga Borngin


ISTILAH HARI DALAM BULAN

Dalam bahasa batak dikenal juga istilah hari dalam bulan. Jika dalam bulan ada 30 hari maka setiap hari tersebut ada istilahnya / bahasa bataknya, sbb:

Hari ke-1 : Artia

Hari ke-2 : Suma

Hari ke-3 : Anggara

Hari ke-4 : Muda

Hari ke-5 : Boraspati

Hari ke-6 : Singkora

Hari ke-7 : Samisara

Hari ke-8 : Antian ni aek

Hari ke-9 : Suma ni mangadap

Hari ke-10 : Anggara Sampulu

Hari ke-11 : Muda ni mangadap

Hari ke-12 : Boraspati na tanggok

Hari ke-13 : Singkora Purnama

Hari ke-14 : Samisara Purnama

Hari ke-15 : Tula

Hari ke-16 : Suma ni Holon

Hari ke-17 : Anggara ni holon

Hari ke-18 : Muda ni holon

Hari ke-19 : Boraspati ni holon

Hari ke-20 : Singkora mora turun

Hari ke-21 : Samisara mora turun

Hari ke-22 : Antian ni anggora

Hari ke-23 : Suma ni mate

Hari ke-24 : Anggara ni begu

Hari ke-25 : Muda ni mate

Hari ke-26 : Boraspati na gok

Hari ke-27 : Singkora duduk

Hari ke-28 : Samisara bulan mate

Hari ke-29 : Hurung

Hari ke-30 : Ringkar

Umpama dohot Umpasa







Dijolo raja sieahan, dipudi raja sipaimaon
(Hormatan do natua-tua dohot angka raja).

Sada silompa gadong dua silompa ubi,
Sada pe namanghatahon Sudema dapotan Uli.

Pitu batu martindi sada do sitaon nadokdok
(Unang maharaphu tu dongan).

Jujur do mula ni bada, bolus do mula ni dame
(Unang sai jujur-jujuri salani dongan, alai bolushon ma).

Siboru buas siboru Bakkara, molo dung puas sae soada mara
(Dame ma).

Sungkunon poda natua-tua, sungkunon gogo naumposo
(Bertanggung-jawab).

UMPASA NI NAPOSO BULUNG. (Buat orang-orang muda)

Jolo tiniktik sanggar laho bahenon huru-huruan,
Jolo sinukkun marga asa binoto partuturan.

Tudia ma luluon da goreng-goreng bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Tobing bahen dongan.

Tudia ma luluon da dakka-dakka bahen soban,
Tudia ma luluon da boru Sinaga bahen dongan.

Manuk ni pealangge hotek-hotek laho marpira
Sirang na mar ale-ale, lobianan matean ina.

Silaklak ni dandorung tu dakka ni sila-sila,
Ndang iba jumonok-jonok tu naso oroan niba.

Metmet dope sikkoru da nungga dihandang-handangi,
Metmet dope si boru da nungga ditandang-tandangi.

Torop do bittang di langit, si gara ni api sada do
Torop do si boru nauli, tinodo ni rohakku holoan ho do

Rabba na poso, ndang piga tubuan lata
Hami na poso, ndang piga na umboto hata

UMPASA MANJALO TINTIN MARANGKUP. (Untuk pasangan saat tukar cincin)

Bulung namartampuk, bulung ni simarlasuna,
Nunga hujalo hami tintin marangkup,
Dohonon ma hata pasu-pasuna.

Hot pe jabu i, tong doi margulang-gulang
Sian dia pe mangalap boru bere i, tong doi boru ni Tulang.

Sai tong doi lubang nangpe dihukkupi rere,
Sai tong doi boru ni Tulang, manang boru ni ise pei dialap bere.

Amak do rere, dakka do dupang,
Anak do bere, Amang do Tulang.

Asing do huta Hullang, asing muse do huta Gunung Tua,
Asing do molo tulang, asing muse do molo gabe dung simatua.

UMPASA TU NA BARU MARBAGAS. (Untuk pasangan yang baru menikah)

Dakka ni arirang, peak di tonga onan,
Badan muna naso jadi sirang, tondi mu marsigomgoman.

Giring-giring ma tu gosta-gosta, tu boras ni sikkoru,
Sai tibu ma hamu mangiring-iring, huhut mangompa-ompa anak dohot boru.

Rimbur ni Pakkat tu rimbur ni Hotang,
Sai tudia pe hamu mangalakka, sai tusima hamu dapot pansamotan.

Dekke ni sale-sale, dengke ni Simamora,
Tamba ni nagabe, sai tibu ma hamu mamora.

Sahat-sahat ni solu, sahat ma tu labuan,
Sahat ma hamu leleng mangolu, jala sai di dongani Tuhan.

Sahat solu, sahat di parbinsar ni ari,
Leleng ma hamu mangolu jala di iring-iring Tuhan ganup ari.

Mangula ma pangula, dipasae duhut-duhut
Molo burju marhula-hula, dipadao mara marsundut-sundut.

Ruma ijuk tu ruma gorga,
Sai tubu ma anakmuna na bisuk dohot borumuna na lambok marroha.

Anian ma pagabe tumundalhon sitodoan,
Arimu ma gabe molo marsipaolo-oloan.

Gadu-gadu ni Silindung, tu gadu-gadu ni Sipoholon,
Sai tubu ma anakmuna 17 dohot borumuna 16.

Andor hadukka ma patogu-togu lombu,
Sai sarimatua ma hamu sahat tu na patogu-togu pahoppu.

UMPASA MANGAMPU

Bulung ni Taen tu bulung ni Tulan
Ba molo tarbahen, sai topot hamu hami sahali sabulan,
Molo so boi bulung ni tulan, pinomat bulung ni salaon,
Ba molo so boi sahali sabulan, pinomat sahali sataon.

Ni durung si Tuma laos dapot Pora-pora.
Molo mamasu-masu hula-hula mangido sian Tuhan,
Napogos hian iba, boi do gabe mamora.

Songgop si Ruba-ruba tu dakka ni Hapadan,
Angka pasu-pasu na ni lehon muna,
Sai dijangkon tondi ma dohot badan.

Mardakka Jabi-jabi, marbulung ia si Tulan
Angka pasu-pasu na pinasahat muna,
Sai sude mai dipasaut Tuhan.

Naung sampulu sada, jumadi sampulu tolu,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai anggiatma padenggan ngolu-ngolu.

Naung sapulu pitu, jumadi sapulu ualu,
Angka pasu-pasu pinasat muna hula-hula nami,
Diampu hami ma di tonga jabu.

Turtu ninna anduhur, tio ninna lote,
Angka pasu-pasu pinasahat muna,
Sai unang ma muba, unang mose.

Habang pidong sibigo, paihut-ihut bulan,
Saluhut angka na tapangido, sai tibu ma dipasaut Tuhan.

Obuk do jambulan, nidandan ni boru Samara
Pasu-pasu na mardongan tangiang sian hula-hula,
Mambahen marsundut-sundut soada mara.

Tinapu bulung nisabi, baen lompan ni pangula
Sahat ma pasu-pasu na nilehon muna i tu hami,
Sai horas ma nang hamu hula-hula.

Suman tu aek natio do hamu, riong-riong di pinggan pasu,
Hula-hula nabasa do hamu, na girgir mamasu-masu.

AKKA UMPASA NA ASING

Martahuak ma manuk di bungkulan ni ruma,
Horas ma hula-hulana,songoni nang akka boruna.

Simbora ma pulguk, pulguk di lage-lage,
Sai mora ma hita luhut, huhut horas jala gabe.

Hariara madungdung, pilo-pilo na maragar,
Sai tading ma na lungun, ro ma na jagar.

Sinuan bulu sibahen na las,
Tabahen uhum mambahen na horas.

Eme ni Simbolon parasaran ni si borok,
Sai horas-horas ma hita on laos Debata ma na marorot.

Sititik ma sigompa, golang-golang pangarahutna,
Tung so sadia pe naeng tarpatupa, sai anggiat ma godang pinasuna.

Pinasa ni Siantar godang rambu-rambuna,
Tung otik pe hatakki, sai godang ma pinasuna.

Tuat si puti, nakkok sideak,
Ia i na ummuli, ima ta pareak.

Aek godang tu aek laut,
Dos ni roha sibaen na saut.

Napuran tano-tano rangging marsiranggongan,
Badan ta i padao-dao, tondita i marsigomgoman.

Marmutik tabu-tabu mandompakhon mataniari,
Sai hot ma di hamu akka pasu-pasu, laho marhajophon akka na sinari.

Bona ni pinasa, hasakkotan ni jomuran,
Tung aha pe dijama hamu, sai tong ma dalan ni pasu-pasu.

Mandurung di aek Sihoru-horu, manjala di aek Sigura-gura,
Udur ma hamu jala leleng mangolu, hipas matua sonang sora mahua.

Dolok ni Simalungun, tu dolok ni Simamora
Salpu ma sian hamu na lungun, sai hatop ma ro si las ni roha.

Megawati Sukarnoputri

megawati






Nama: Megawati

Nama Lengkap: Dyah Permata Megawati Setyawati Sukarnoputri

Tempat/Tgl. Lahir: Yogyakarta, 23 Januari 1947

Agama: Islam

Karir:

  • Anggota DPR/MPR RI (1987-1992)
  • Anggota DPR/MPR RI (1999)
  • Wakil Presiden RI (1999- 2001)
  • Presiden RI (2001 - 2004)
Pendidikan:
  • SD s/d SMA Perguruan Cikini
  • Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran (1965-1967)
  • Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972)
Organisasi:
  • Ketua PDI Cabang Jakarta Pusat (1987-1992)
  • Ketua Umum DPP PDI (1993 - 1998)
  • Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (1998-2003)
Alamat: Jalan Teuku Umar 27-A, Jakarta Pusat

Diam (tak banyak bicara), akhirnya menjadi suatu kekuatan bagi Megawati. Kendati, mendapat tekanan dan rintangan bahkan caci-maki, dia tetap diam dan sabar. Buahnya, dia pun berhasil menggapai singgasana Presiden RI ke-5. Karena terlalu diam, beberapa pengamat dan lawan politiknya sempat menuding itu sebagai indikasi kebodohan. Namun Megawati tetap diam dan sabar. Para lawan politiknya menjadi semakin penasaran. Setelah menjabat presiden, ia pun tetap tak banyak bicara. Tampaknya, ia tak mudah terombang-ambing. Puteri Bung Karno ini pun semakin sulit ditebak.

Dia memang sudah terbiasa mendapat tekanan sejak ayahandanya, Soekarno, diturunkan dari jabatan Presiden pada SI-MPRS 1996. Selama 32 tahun, Megawati (keluarga Bung Karno), tidak bebas mengekspresikan aspirasi politiknya. Namun, posisi diamnya memberi ruang gerak bagi Megawati, dibandingkan saudara-saudaranya, sehingga dia 'dibiarkan' masuk dalam kancah politik, masuk Senayan dan memimpin PDI Cabang Jakarta Pusat (1987-1992). Kendati kemudian, ketika dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI (1993-1998), pemerintah Orde Baru menekannya dengan keras. Namun, dia teguh dalam perjuangan dan tetap juga diam. Sehingga, Megawati patut disebut sebagai simbol penerima tekanan Orde Baru. Sekaligus simbol perlawanan secara damai dan tak banyak bicara. Diam-nya Megawati, tidak hanya mengecoh pemerintah Orba, bahkan telah membuat Gus Dur, yang terkenal piawai berpolitik, menjadi sesumbar. Gus Dur yang berhasil 'menangkap' peluang menjadi Presiden RI pada Sidang Umum MPR 1999, yang sepatutnya peluang itu adalah milik Megawati, terkesan terlalu meremehkan Megawati. Megawati yang sudah 'mengalah' berkenan menjadi Wakil Presiden -- kendati partainya PDI-P memperoleh suara terbanyak (35%) dibanding PKB hanya 10% pada Pemilu 1999 -- tidak banyak dilibatkan dalam pengambilan keputusan politik strategis pada pemerintahan Gus Dur. Di antaranya, pengangkatan dan pemberhentian menteri. Kesan kuat yang mengindikasikan bahwa Gus Dur menganggap remeh Megawati berpuncak pada pemberhentian kader PDIP Laksamana Sukardi, dari jabatan Menteri BUMN. Laksamana diberhentikan bersama Yusuf Kalla, kader Partai Golkar, tanpa sepengetahuan Megawati dan tanpa alasan yang jelas. Sejak saat itu, si pendiam Megawati secara nyata mengambil jarak 'sahabat-saudara' dan jarak politik dengan Gus Dur.

Eskalasi politik pun bergeser cepat 180 derajat. Partai-partai berbasis Islam (PPP, PAN, PBB, PK dll), yang pada Sidang Umum MPR 1999 'sangat anti' Megawati, memanfaatkan jarak renggang Mega-Gus Dur, dengan membentuk 'aliansi' atau kesepahaman politik baru dengan PDI-P. Sebab, partai-partai berbasis Islam itu sudah lebih dulu merasa 'disepelekan' Gus Dur. Hamzah Haz, Ketua Umum PPP, sudah lebih dulu didepak dari kabinet. Kemudian menyusul Bambang Sudibyo (PAN) dan Yusril Ihza Mahendra (PBB) dan Nurmahmudi Ismail (PK), masing-masing dipecat dari jabatan Menkeu, Menkeh dan Menhutbun. Disusul lagi Bomer Pasaribu dan Mahadi Sinambela dari Partai Golkar diberhentikan dari jabatan Menaker dan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga. Maka ketika menggelinding kasus Bulogate, yang melibatkan Gus Dur dan lingkarannya, PDIP menjadi berseberangan dengan Gus Dur dan PKB-nya. Terbentuklah Pansus Bulogate DPR-RI, yang berujung pada jatuhnya Gus Dur pada Sidang Istimewa MPR, 23 Juli 2001. SI-MPR itu dipercepat sebagai perlawanan atas Dekrit Presiden Gus Dur yang nekad membubarkan DPR/MPR. SI-MPR itu secara aklamasi menobatkan Megawati menjabat Presiden RI periode 2001-2004. Kepatutan politik pun terwujud. Ketua umum partai pemenang Pemilu menjadi Presiden. Terwujudlah amanat Kongres PDIP di Bali yang menghendaki Megawati menjadi Presiden. Kekalahan tipis Megawati atas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Sidang Umum 1999, yakni 313 banding 373, terbalas dengan kemenangan telak pada SI-MPR 2001. Tampaknya PDIP tak mau terkecoh untuk kedua kali oleh kepiawian politik Gus Dur. Megawati, tentu juga belajar dari kesalahan Gus Dur. Sehingga PDIP mendukung Hamzah Haz (Ketua Umum PPP) sebagai Wakil Presiden. Padahal Hamzah Haz adalah pemimpin salah satu partai yang tidak menghendaki Megawati jadi presiden dan menjadi pesaing Megawati pada pemilihan Wakil Presiden pada SU-MPR 1999, yang dimenangkan Megawati dengan suara 396 banding 284. Pada mulanya, dalam posisi Wapres, Megawati tampak tulus mendampingi Gus Dur. Hubungan Megawati sebagai Wapres dengan Gus Dur sebagai Presiden mesra-mesra saja. Tetapi akibat kesalahan Gus Dur, yang terkesan meremehkan Megawati, hubungan itu memburuk. Makan pagi yang biasanya dilakukan tiap Rabu di kediaman resmi Megawati, tidak lagi diadakan. Bahkan, Megawati pelan-pelan menunjukkan ketidaksepahamannya dengan Gus Dur, baik lewat pernyataannya maupun lewat orang-orang di sekitarnya. Mega jarang hadir pada rapat kabinet yang dipimpin Gus Dur, termasuk pelantikan pejabat baru di kabinet. Mega juga tidak hadir pada pertemuan parpol yang digagas Gus Dur di Istana Bogor. Bahkan, Megawati melakukan pertemuan dengan sejumlah pimpinan parpol di rumah pribadinya di Kebagusan, Jakarta Selatan, satu bulan menjelang SI-MPR 2001.

Puteri proklamator ini dilahirkan di Yogyakarta, 23 Januari 1947. Fatmawati melahirkannya dalam suasana yang tidak nyaman. Ketika itu hujan turun deras, atap rumah bocor, guntur menggelegar, kilat menyambar-nyambar dan tanpa listik. Mega lahir dalam suasana cahaya temaram lampu minyak tanah. Menurut kerabat, suasana kelahiran Megawati itu menjadi semacam pertanda untuk perjalanan hidupnya kemudian. Memang, setelah Soekarno jatuh, Mega dan keluarga mendapat cobaan dan tekanan politik yang cukup berat. Mega dan saudara-saudaranya terasing dari dunia ramai. Mereka hidup dalam kondisi yang tertekan. Sampai-sampai kuliah Megawati di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (1965-1967) dan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (1970-1972) tak bisa diselesaikannya. Ditambah lagi cobaan hidup pribadi yang dialaminya. Suami pertamanya, Lettu (Penerbang) Surindro Supjarso hilang dalam kecelakaan jatuhnya pesawat Skyvan T-701 yang dipilotinya di Biak, Irian Jaya tahun 1970. Padahal saat itu Megawati tengah mengandung anak kedua. Sampai kini Surindro tidak pernah ditemukan. Kemudian, tahun 1972 Mega menikah dengan Hassan Gamal Ahmad Hasan, seorang diplomat Mesir yang sedang bertugas di Jakarta. Tetapi perkawinan itu, kemudian dibatalkan karena Mega masih dianggap terikat perkawinan yang sah dengan Surindro. Sebab, ketika itu belum ada kepastian mengenai nasib suami pertamanya itu. Baru beberapa saat kemudian, ada kepastian dari Angkatan Udara bahwa Surindro telah gugur dalam musibah jatuhnya pesawat itu. Tak lama setelah itu, Mega menikah dengan Taufik Kiemas, seorang aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) asal Sumatera Selatan.

Pada masa kecilnya, Megawati banyak menikmati pengalaman indah. Maklum, sebagai puteri presiden, Megawati menghabiskan masa kecilnya di lingkungan Istana Merdeka. Dari kecil, dia sudah menampakkan sosok lembut dan pendiam. Namun, dia senang menari. Bahkan kerap menari di hadapan tamu-tamu ayahnya di istana. Selain itu, Adis -- panggilan Megawati oleh Bung Karno -- suka dengan tanaman. Dia pun berkebun anggrek di salah satu sudut istana. Kendati lahir dari keluarga politisi jempolan, Mbak Mega -- panggilan akrab para pendukungnya -- tidak terbilang piawai dalam dunia politik. Bahkan, Megawati sempat dipandang sebelah mata oleh teman dan lawan politiknya. Dia bahkan dianggap sebagai pendatang baru dalam kancah politik, yakni baru pada tahun 1987. Saat itu Partai Demokrasi Indonesia (PDI) menempatkannya sebagai salah seorang calon legislatif dari daerah pemilihan Jawa Tengah, untuk mendongkrak suara. Mega berkenan dan tampak enjoy. Karena, mungkin, dia telah lama menunggu terbukanya kesempatan itu. Kendati saat itu dia nekad mengingkari kesepakatan keluarganya untuk tidak terjun ke dunia politik. Trauma politik keluarga itu ditabraknya. Mega tampil menjadi primadona dalam kampanye PDI, walau tergolong tidak banyak bicara dibanding para pembicara lain. Ternyata memang berhasil. Suara untuk PDI naik. Dan Mega pun terpilih menjadi anggota DPR/MPR. Pada tahun itu pula dia terpilih sebagai Ketua DPC PDI Jakarta Pusat. Tetapi, kehadiran Mega di gedung DPR/MPR sepertinya tidak terasa. Dia lebih banyak diam. Kinerjanya sebagai anggota dewan dinilai kurang. Posisi primadona masa kampanye, tidak tercermin pada dirinya saat duduk di legislatif itu. Bahkan dia sering tak datang ke DPR. Tampaknya, Megawati tahu bahwa dia masih di bawah tekanan. Selain memang sifatnya pendiam, dia pun memilih untuk tidak menonjol mengingat kondisi politik saat itu. Maka dia memilih lebih banyak melakukan lobi-lobi politik di luar gedung wakil rakyat tersebut. Lobi politiknya, yang silent operation, itu secara langsung atau tidak langsung, telah memunculkan terbitnya bintang Mega dalam dunia politik. Pada tahun 1993 dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP PDI. Hal ini sangat mengagetkan pemerintah pada saat itu. Proses naiknya Mega ini merupakan cerita menarik pula. Ketika itu, Konggres PDI di Medan berakhir tanpa menghasilkan keputusan apa-apa. Pemerintah mendukung Budi Hardjono menggantikan Soerjadi. Lantas, dilanjutkan dengan menyelenggarakan Kongres Luar Biasa di Surabaya. Pada kongres ini, nama Mega muncul dan secara telak mengungguli Budi Hardjono, kandidat yang didukung oleh pemerintah itu. Mega terpilih sebagai Ketua Umum PDI. Kemudian status Mega sebagai Ketua Umum PDI dikuatkan lagi oleh Musyawarah Nasional PDI di Jakarta. Namun pemerintah menolak dan menganggapnya tidak sah. Karena itu, dalam perjalanan berikutnya, pemerintah mendukung kekuatan mendongkel Mega sebagai Ketua Umum PDI. Fatimah Ahmad cs, atas dukungan pemerintah, menyelenggarakan Kongres PDI di Medan pada tahun 1996, untuk menaikkan kembali Soerjadi. Tetapi Mega tidak mudah ditaklukkan. Pemerintah terperangah. Karena Mega dengan tegas menyatakan tidak mengakui Kongres Medan. Mega teguh menyatakan dirinya sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, sebagai simbol keberadaan DPP yang sah, dikuasai oleh pihak Mega. Para pendukung Mega tidak mau surut satu langkah pun. Mereka tetap berusaha mempertahankan kantor itu. Soerjadi yang didukung pemerintah pun memberi ancaman akan merebut secara paksa kantor DPP PDI itu. Ancaman itu kemudian menjadi kenyataan.

Pagi, tanggal 27 Juli 1996 kelompok Soerjadi benar-benar merebut kantor DPP PDI dari pendukung Mega. Puluhan pendukung Mega tewas pada Peristiwa 27 Juli itu. Aksi penyerangan itu berbuntut pada kerusuhan massal di Jakarta. Beberapa aktivis pemuda dan mahasiswa ditangkap dan dipenjara. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Mega. Malah, dia makin memantap langkah mengibarkan perlawanan. Tekanan politik yang amat telanjang terhadap Mega itu, menundang empati dan simpati dari masyarakat luas. Sosok Mega, yang sebelumnya dianggap biasa saja, malah muncul menjadi simbol dan pemegang kendali perlawanan kepada rezim Orde Baru yang sudah 32 tahun berkuasa. Mega, secara sadar atau tidak, akhirnya dibesarkan dan dimatangkan oleh tekanan berlebihan dan telanjang dari penguasa Orde Baru. Tanpa tekanan berlebihan penguasa, kekuatan Mega belum tentu terbentuk sedemikian rupa. Mega yang pendiam, tampaknya sangat menyadari hal itu. Dia pun tahu diri atas kekuatannya. Lalu, dia berupaya menghindari perlawanan dengan kekerasan. Dia tidak mau membenturkan massanya dengan aparat dan kekuatan Orde Baru. Dia memilih jalur hukum, walau pun kemudian kandas di pengadilan. Kendati demikian, Mega terus berjuang. PDI pun menjadi dua. Yakni, PDI pimpinan Megawati dan PDI pimpinan Soerjadi. Massa PDI lebih berpihak dan mengakui Mega. Tetapi, pemerintah mengakui Soerjadi sebagai Ketua Umum PDI yang sah. Akibatnya, PDI pimpinan Mega tidak bisa ikut Pemilu 1997. Namun, kondisi ini makin memancarkan kekuatan Mega. Keberpihakan massa PDI kepada Mega makin terlihat, pada pemilu 1997 itu. Sebab, terbukti perolehan suara PDI pimpinan Soerjadi merosot tajam. Banyak massa pendukung PDI memilih golput, seperti halnya Mega sendiri. Sebagian lagi berpaling ke Partai Persatuan Pembangunan, yang melahirkan istilah "Mega Bintang". Setelah rezim Orde Baru tumbang, PDI Mega berubah nama menjadi PDI Perjuangan. Partai politik berlambang banteng gemuk dan bermulut putih itu berhasil memenangkan Pemilu 1999 dengan meraih lebih tiga puluh persen suara. Kemenangan PDIP itu menempatkan Mega pada posisi paling patut menjadi presiden dibanding kader partai lainnya. Massa pendukung Mega mengancam, kalau Mega tidak jadi presiden, akan terjadi revolusi. Tetapi ternyata pada SU-MPR 1999, Mega kalah. Massa pendukung Mega lantas mengamuk di sejumlah kota seperti Bali, Solo, Medan dan Jakarta. Namun, setelah Mega terpilih sebagai Wapres, amukan massa PDIP itu pun reda. Mereka ditenangkan oleh Mega sendiri. Mega dalam pidato pelantikannya sebagai Wapres menyampaikan pesan: "Kepada anak-anakku di seluruh tanah air, saya minta untuk bekerjalah kembali dengan tulus, janganlah melakukan hal-hal yang bersifat emosional, karena di dalam mimbar ini kamu melihat ibumu berdiri." Massa pendukung Mega pun lega dan harus puas menerima kenyataan, Mega di posisi kedua. Tetapi, posisi kedua tersebut rupanya sebuah tahapan untuk kemudian pada waktunya memantapkan Mega pada posisi pertama di negeri berpenduduk lebih 210 juta jiwa ini. Sebab kurang dari dua tahun, anggota Majelis secara aklamasi menempatkannya duduk sebagai Presiden RI ke-5 menggantikan KH Abdurrahman Wahid. Kenyataan ini, membuktikan bahwa diam Megawati itu emas. (tokohindonesia.com)