Thursday, December 18, 2008

RUMA GORGA BATAK

Gorga Batak adalah ukiran atau pahatan tradisional yang biasanya terdapat di dinding rumah bahagian luar dan bagian depan dari rumah-rumah adat Batak. Gorga ada dekorasi atau hiasan yang dibuat dengan cara memahat kayu (papan) dan kemudian mencatnya dengan tiga (3) macam warna yaitu : merah-hitam-putih. Warna yang tiga macam ini disebut tiga bolit.

Bahan-bahan untuk Gorga ini biasanya kayu lunak yaitu yang mudah dikorek/dipahat. Biasanya nenek-nenek orang Batak memilih kayu ungil atau ada juga orang menyebutnya kayu ingul. Kayu Ungil ini mempunyai sifat tertentu yaitu antara lain tahan terhadap sinar matahari langsung, begitu juga terhadap terpaan air hujan, yang berarti tidak cepat rusak/lapuk akibat kena sengatan terik matahari dan terpaan air hujan. Kayu Ungil ini juga biasa dipakai untuk pembuatan bahan-bahan kapal/ perahu di Danau Toba.

Bahan-bahan Cat (Pewarna)

Pada zaman dahulu Nenek orang Batak Toba menciptakan catnya sendiri secara alamiah misalnya :
Cat Warna Merah diambil dari batu hula, sejenis batu alam yang berwarna merah yang tidak dapat ditemukan disemua daerah. Cara untuk mencarinya pun mempunyai keahlian khusus. Batu inilah ditumbuk menjadi halus seperti tepung dan dicampur dengan sedikit air, lalu dioleskan ke ukiran itu.
Cat Warna Putih diambil dari tanah yang berwarna Putih, tanah yang halus dan lunak dalam bahasa Batak disebut Tano Buro. Tano Buro ini digiling sampai halus serta dicampur dengan sedikit air, sehingga tampak seperti cat tembok pada masa kini.
Cat Warna Hitam diperbuat dari sejenis tumbuh-tumbuhan yang ditumbuk sampai halus serta dicampur dengan abu periuk atau kuali. Abu itu dikikis dari periuk atau belanga dan dimasukkan ke daun-daunan yang ditumbuk tadi, kemudian digongseng terus menerus sampai menghasilkan seperti cat tembok hitam pada zaman sekarang.

Jenis/ Macamnya Gorga Batak

Menurut cara pengerjaannya ada 2 jenis :

1. Gorga Uhir yaitu Gorga yang dipahatkan dengan memakai alat pahat dan setelah siap dipahat baru diwarnai
2. Gorga Dais yaitu Gorga yang dilukiskan dengan cat warna tiga bolit. Gorga dais ini merupakan pelengkap pada rumah adat Batak Toba. Yang terdapat pada bahagian samping rumah, dan dibahagian dalam.

Menurut bentuknya
Dilihat dari ornament dan gambar-gambarnya dapat pula Gorga itu mempunyai nama-namanya tersendiri, antara lain ;

• Gorga Ipon-Ipon, Terdapat dibahagian tepi dari Gorga; ipon-ipon dalam Bahasa Indonesia adalah Gigi. Manusia tanpa gigi sangat kurang menarik, begitulah ukiran Batak, tanpa adanya ipon-ipon sangat kurang keindahan dan keharmonisannya. Ipon-ipon ada beraneka ragam, tergantung dari kemampuan para pengukir untuk menciptakannya. Biasanya Gorga ipon-ipon ini lebarnya antara dua sampai tiga sentimeter dipinggir papan dengan kata lain sebagai hiasan tepi yang cukup menarik.

• Gorga Sitompi, Sitompi berasal dari kata tompi, salah satu perkakas Petani yang disangkutkan dileher kerbau pada waktu membajak sawah. Gorga Sitompi termasuk jenis yang indah di dalam kumpulan Gorga Batak. Disamping keindahannya, kemungkinan sipemilik rumah sengaja memesankannya kepada tukang Uhir (Pande) mengingat akan jasa alat tersebut (Tompi) itu kepada kerbau dan kepada manusia.

• Gorga Simataniari (Matahari), Gorga yang menggambarkan matahari, terdapat disudut kiri dan kanan rumah. Gorga ini diperbuat tukang ukir (Pande) mengingat jasa matahari yang menerangi dunia ini, karena matahari juga termasuk sumber segala kehidupan, tanpa matahari takkan ada yang dapat hidup.

• Gorga Desa Naualu (Delapan Penjuru Mata Angin), Gorga ini menggambarkan gambar mata angin yang ditambah hiasan-hiasannya. Orang Batak dahulu sudah mengetahui/kenal dengan mata angin. Mata angin ini pun sudah mempunyai kaitan-kaitan erat dengan aktivitas-aktivitas ritual ataupun digunakan di dalam pembuatan horoscope seseorang/sekeluarga. Sebagai pencerminan perasaan akan pentingnya mata angina pada suku Batak maka diperbuatlah dan diwujudkan dalam bentuk Gorga.

• Gorga Si Marogung-ogung (Gong), Pada zaman dahulu Ogung (gong) merupakan sesuatu benda yang sangat berharga. Ogung tidak ada dibuat di dalam negeri, kabarnya Ogung didatangkan dari India. Sedangkan pemakaiannya sangat diperlukan pada pesta-pesta adat dan bahkan kepada pemakaian pada upacara-upacara ritual, seperti untuk mengadakan Gondang Malim (Upacara kesucian). Dengan memiliki seperangkat Ogung pertanda bahwa keluarga tersebut merupakan keluarga terpandang. Sebagai kenangan akan kebesaran dan nilai Ogung itu sebagai gambaran/ keadaan pemilik rumah maka dibuatlah Gorga Marogung-ogung.

• Gorga Singa Singa, Dengan mendengar ataupun membaca perkataan Singa maka akan terlintas dalam hati dan pikiran kita akan perkataan: Raja Hutan, kuat, jago, kokoh, mampu, berwibawa. Tidak semua orang dapat mendirikan rumah Gorga disebabkan oleh berbagai faktor termasuk factor social ekonomi dan lain-lain. Orang yang mampu mendirikan rumah Gorga Batak jelaslah orang yang mampu dan berwibawa di kampungnya. Itulah sebabnya Gorga Singa dicantumkan di dalam kumpulan Gorga Batak

• Gorga Jorgom, Ada juga orang menyebutnya Gorga Jorgom atau ada pula menyebutnya Gorga Ulu Singa. Biasa ditempatkan di atas pintu masuk ke rumah, bentuknya mirip binatang dan manusia.

• Gorga Boras Pati dan Adop Adop (Tetek), Boras Pati sejenis mahluk yang menyerupai kadal atau cicak. Boras Pati jarang kelihatan atau menampakkan diri, biasanya kalau Boras Pati sering nampak, itu menandakan tanam-tanaman menjadi subur dan panen berhasil baik yang menuju kekayaan (hamoraon). Gorga Boras Pati dikombinasikan dengan tetek (susu, tarus). Bagi orang Batak pandangan terhadap susu (tetek) mempunyai arti khusus dimana tetek yang besar dan deras airnya pertanda anaknya sehat dan banyak atau punya keturunan banyak (gabe). Jadi kombinasi Boras Pati susu (tetek) adalah perlambang Hagabeon, Hamoraon sebagai idaman orang Batak.

• Gorga Ulu Paung, Ulu Paung terdapat di puncak rumah Gorga Batak. Tanpa Ulu Paung rumah Gorga Batak menjadi kurang gagah. Pada zaman dahulu Ulu Paung dibekali (isi) dengan kekuatan metafisik bersifat gaib. Disamping sebagai memperindah rumah, Ulu Paung juga berfungsi untuk melawan begu ladang (setan) yang datang dari luar kampung. Zaman dahulu orang Batak sering mendapat serangan kekuatan hitam dari luar rumah untuk membuat perselisihan di dalam rumah (keluarga) sehingga tidak akur antara suami dan isteri. Atau membuat penghuni rumah susah tidur atau rasa takut juga sakit fisik dan berbagai macam ketidak harmonisan.

Masih banyak lagi gambar-gambar yang terdapat pada dinding atau bahagian muka dari rumah Batak yang sangat erat hubungannya dengan sejarah kepribadian si pemilik rumah. Ada juga gambar lembu jantan, pohon cemara, orang sedang menunggang kuda, orang sedang mengikat kerbau. Gambar Manuk-Manuk (burung) dan hiasan burung Patia Raja perlambang ilmu pengetahuan dan lain-lain.

Apakah Jaha Jaha Gorga Itu ?

Orang sering bertanya dan mempersoalkan tentang manjaha (membaca) Gorga Batak yang sering membingungkan banyak orang. Membaca Gorga Batak tidak seperti membaca huruf-huruf Latin atau huruf Arab atau huruf Batak, huruf Kawi dan yang lainnya. Membaca Gorga Batak yakni mengartikan gambar-gambar dan warna yang terdapat di Rumah Gorga itu serta menghubungkannya kepada Sejarah dari pada si pemilik rumah tersebut.

Sebagai contoh : Disebuah rumah Gorga Batak terdapat gambar Ogung (gong), sedangkan pemilik rumah atau nenek serta Bapaknya belum pernah mengadakan pesta dengan memukul Ogung/Gendang, maka Gorga rumahnya tidak sesuai dengan keadaan pribadi pemilik rumah, maka orang yang membaca Gorga rumah itu mengatakan Gorga rumah tersebut tidak cocok.

Contoh lain : Si A orang yang baru berkembang ekonominya disuatu kampung, dan membangun satu rumah Gorga Batak. Si A adalah anak tunggal dan Bapaknya juga anak tunggal. Akan tetapi cat rumah Gorga itu banyak yang berwarna merah dan keras, dan lagi pula singa-singanya (Mata Ulu Paungnya) membelalak dan menantang, maka Gorga rumahnya itu tidak cocok karena si A tersebut orang yang ekonominya baru tumbuh (namamora mamungka). Maka orang yang membaca Gorga rumahnya menyebutkan untuk si A. Sebaiknya si A lebih banyak memakai warna si Lintom (Hitam) dan Ulu Paungnya agak senyum, Ulu Paung terdapat dipuncak rumah.

RUMA (RUMAH)

Jadi sudah kita ketahui bahwa gorga (ukiran) Batak itu membuat Rumah Batak itu sangat indah anggun dan sangat senang perasaan melihatnya, baik orang Barat/Eropah sangat senang perasaannya melihat bentuk rumah Batak itu serta hiasan hiasannya.
Bagaimanakah bahagian dalamnya? Apakah seindah dan seanggun yang kita lihat dari luarnya? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita lihat dahulu dari berbagai sudut pandang. Rumah Batak itu tidak memiliki kamar (pada zaman dahulu), jadi jelas perasaan kurang enak kalau di bandingkan pada zaman sekarang.

JABU NAMAR AMPANG NA MARJUAL

Para nenek moyang orang Batak (Bangso Batak) menyebut Rumah Batak yaitu “jabu na marampang na marjual”. Ampang dan Jual adalah tempat mengukur padi atau biji bijian seperti beras/kacang dll. Jadi Ampang dan Jual adalah alat pengukur, makanya Rumah Gorga, Rumah Adat itu ada ukurannya, memiliki hukum hukum, aturan aturan, kriteria kriteria serta batas batas.

Biarpun Rumah Batak itu tidak memiliki kamar/dinding pembatas tetapi ada wilayah (derah) yang di atur oleh hukum hukum. Ruangan Ruma Batak itu biasanya di bagi atas 4 wilayah (bahagian) yaitu:

1. Jabu Bona ialah daerah sudut kanan di sebelah belakang dari pintu masuk rumah, daerah ini biasa di temapti oleh keluarga tuan rumah.
2. Jabu Soding ialah daerah sudut kiri di belakang pintu rumah. Bahagian ini di tempati oleh anak anak yang belum akil balik (gadis)
3. Jabu Suhat, ialah daerah sudut kiri dibahagian depan dekat pintu masuk. Daerah ini di tempati oleh anak tertua yang sudah berkeluarga, karena zaman dahulu belum ada rumah yang di ongkos (kontrak) makanya anak tertua yang belum memiliki rumah menempati jabu SUHAT.
4. Jabu Tampar Piring, ialah daerah sudut kanan di bahagian depan dekat dengan pintu masuk. Daerah ini biasa disiapkan untuk para tamu, juga daerah ini sering di sebut jabu tampar piring atau jabu soding jolo-jolo.

Disamping tempat keempat sudut utaman tadi masih ada daerah antara Jabu Bona dan Jabu Tampar Piring, inilah yang dinamai Jabu Tongatonga Ni Jabu Bona. Dan wilayah antara Jabu Soding dan Jabu Suhat disebut Jabu Tongatonga Ni Jabu Soding.

Itulah sebabnya ruangan Ruma Batak itu boleh dibagi 4 (empat) atau 6 (enam), makanya ketika orang batak mengadakan pertemuan (rapat) atau RIA di dalam rumah sering mengatakan sampai pada saat ini; Marpungu hita di jabunta na mar Ampang na Marjual on, jabu na marsangap na martua on. Dan seterusnya……

BAGAS RIPE RIPE

Dihatiha nasalpui (zaman dahulu) terkadang suku bangsa Batak i mendirikan rumah secara kongsi atau rumah bersama antara abang dan adik dan rumah itu di sebut BAGAS RIPE RIPE.

Sebelum mendirikannya mereka terlebih dahulu bermusyawarah dan menentukan dan memutuskan; siapa yang menempati jabu BONA, siapa yang menempati jabu Soding jabu SUHAT dan jabu Tamparpiring. Tentunya rumah seperti ini sudah agak lebih besar, dan sifat seperti ini adalah sisa sisa sifat masyarakat kommunal. Namun biarpun adanya nampak sifat sifat kommunal pada keluarga seperti ini, mereka seisi rumah saling menghormati terutama terhadap wanita.

Tidak pernah ada perkosaan ataupun perselingkuhan seperti marak maraknya di zaman yang serba materialis ini. Para nenek Suku Batak pada hatiha (ketika) itu menghormati istri kawannya yang kebetulan suaminya berada di luar rumah.

Disinilah keindahan bahagian dalam rumah Batak itu terutama di bidang moral. Mereka menghormati hak hak orang lain dan menghormati ukuran ukuran (Ampang/Jual) hukum hukum wilayah didalam rumah yang tidak memiliki bilik (kamar) mereka sangat mengakui bahwa rumah itu memang jabu namar Ampang Marjual.

Rumah (Ruma) yang didalam bahasa asing disebut HOUSE mempunyai banyak cara untuk menyebutnya sesuai dengan fungsinya. Bilamana Ruma itu tempat penyimpanan padi maka para nenek nenek Suku Batak menyebutnya Sopo PARPEOPAN EME. Bilamana Ruma (Sopo) itu berfungsi sebagai tempat pemujaan DEWATA MULA JADI NA BOLON I (TUHAN ALLAH), maka tempat itu dinamakan Joro. Dan sampai sekarangpun masih banyak orang Batak menyebut Gereja itu dengan sebutan Bagas Joro ni DEBATA. Bagas Joro yang lama bentuknya persis seperti Ruma Batak dan sisa-sisanya masih ada pernah penulis lihat di daerah Humbang dan mereka beribadah pada hari Sabtu.

Ada juga Ruma itu khusus tempat musyawarah para keluarga dan para kerabat kerabat tempat membicarakan hal hal yang penting. Tempat tersebut di namakan Tari SOPO dan biasanya tari sopo tidak mempunyai dinding contohnya dapat kita lihat di Lumban Bulbul Kecamatan Balige yang pemiliknya bernama S.B Marpaung (Op. Miduk), atau di beberapa tempat masih ada lagi sisa sisa tari sopo yang dapat kita lihat.

Kenapa disebut BAGANDING TUA?

Kata kata yang lain untuk menyebut rumah itu ada juga mengatakan; SIBAGANDING TUA, menurut sunber yang layak di percayai BAGANDING TUA itu adalah sebuah mahluk yang juga ciptaan Allah, wujudnya seperti seekor ular yang panjangnya paling paling 2 jengkal jari tangan. Bagi orang yang bernasib mujur bisa saja BAGANDING TUA datang rumahnya dan pasti membawa rejeki yang melimpah ruah. Pokoknya bila Ruma itu memiliki BAGANDING TUA pemiliki Ruma itu akan kedatangan rejeki dari berbagai penjuru.
Demikianlah Suku Batak itu sering memakai kata kata penghalus dan sastra untuk menunjukkan ruma sebagai tempat tinggal manusia dengan menyebut JABU SI BAGANDING TUA.

Dari catatan yang dihimpun, Istilah Baganding tua juga diartikan sebagai peristilahan kepada perempuan (istri) pemilik rumah, dan untuk laki-laki (suami) diistilahkan Simanguliman. Bila dalam petuah upacara khusus mengartikan rumah sebagai “bagas Sibaganding tua Simanguliman on”, artinya suami dan istri masih lengkap.
Perempuan (isteri) juga diartikan “pangalapan tua”, sumber berkat, sementara rumah diartikan sama dengan perhimpunan berkat harta dan keturunan serta kehormatan.
“Namarampang Namarjual” diartikan bagi sebuah rumah yang memiliki kehidupan, memiliki harta, aturan dan penegakan hukum dalam keluarga serta masyarakat.
Kehilangan seorang isteri merupakan kehilangan kehormatan bagi sebuah keluarga dan rumah itu sendiri, sehingga penempatan istilah Sibagandingtua dan Namarampang Namarjual otomatis tidak lagi diucapkan sampai seorang perempuan (isteri) atau menantu dari salah seorang anak lelaki ada menempati rumah itu.
Menurut cerita rakyat, bila seorang isteri bijaksana yang menghidupi keluarga itu meninggal dunia, maka “boraspati” (cecak) akan meninggalkan rumah itu. Boraspati adalah lambang kesuburan dan selalu dibuat hiasan rumah adat batak. Kebenarannya belum pernah diteliti.

BALE BALE:

Berbagai macam penyebutan untuk menunjukkan Ruma (tempat tinggal manusia) di dalam bahasa Batak, kata BALE juga sering di sebut sebut, tetapi BALE kurang biasa di pakai sebagai hunian tempat berkeluarga (HOUSE dalam Bahasa Inggris). Bale artinya Balai tempat bertemu antara penjual dan pembeli. Contoh Balairung Balige yang modelnya seperti RUMA GORGA BATAK, akan tetapi fungsinya adalah sebagai tempat berjual beli kebutuhan sehari-hari.

Akan tetapi biarpun BALEBALE tidak biasa seperti hunian tempat berkeluarga dan anak beranak Orang Batak sekarang sering juga menyebutkannya sebagai rumah biasa (House). Buktinya; mereka berkata “PAJONG JONG BALE BALE do anakta nuaeng di Medan”, artinya: Anak kita sedang membangun rumah di Medan. Padahal rumah yang dibangun anaknya di Medan adalah rumah gedong. Disan do “Bale balenta”, (Disanalah rumah kita) “Nungnga adong Balebale ni lae i di Jakarta” (sudah ada rumah ipar kita itu di Jakarta.

Tangga gogop (genap)

Tadi kita sudah mengetahui bahwa Ruma Batak itu menurut tangga dan pintunya dibagi menjadi 2 (dua) bahagian yaitu Ruma Batak si Tolumbea dan Ruma Batak Di Baba ni Amporik. Namun kalau jumlah anak tangganya selalu ganjil apakah itu beranak tangga 9 atau 11 atau 7 pokoknya jumlahnya selalu ganjil. Bagi masyarakat Batak Toba jumlah anak tangga yang genap (gogop) adalah pantang, sebab jumlah anak tangga rumah adalah menunjukkan bahwa pemilik rumah adalah keturunan budak (Hatoban).

Hal seperti ini tidak terdapat bagi Ruma Batak sebab tidak mungkin seorang budak dapat mendirikan Rumah Batak, atau sebagai pemilik Ruma Batak. Kalaupun ada Rumah beranak tangga yang genap (gogop) itu mungkin pada rumah jenis lain. Karena di tanah Batak pada jaman dahulu dan jaman sekarang ada juga kita dapati rumah EMPER bahkan jumlahnya jauh melebihi dari Ruma Batak.

Menurut cerita yang didapat dari hasil bincang bincang antara penulis dengan orang yang layak dipercayai bahwa pada zaman dahulu ada terdapat budak di Samosir. Dan kalau budak itu mau makan terlebih dahulu bersuara ngeong (mar ngeong) seperti suara kucing barulah tuannya meletakkan nasi di lantai rumah.
Dan kalau budak sudah merdeka di buatlah rumah pondoknya dengan tanda jumlah anak tangga rumahnya genap seperti 2 atau 4.

Pada zaman zaman permulaan Kemerdekaan Indonesia penulis masih sempat mendengar bahwa anak pemilik rumah yang bertangga genap sangat sulit mendapat jodoh yang cantik. Jadi secara jelasnya bahwa Rumah Batak itu tidak ada yang beranak tangga yang gogop.

DATU :

Di dalam masyarakat Batak yang lama, Datu adalah sangat berperan baik dalam rangka penyediaan bahan bahan bagunan dari hutan seperti kayu, ijuk (bahan untuk atap rumah), rotan, batu pondasi dll. Sebab bukan tidak mungkin bahan bahan bagunan itu adalah milik dari mahluk mahluk halus di hutan. Misalnya batu itu adalah sebagai tempat duduk duduknya (santai santai) mahluk halus di hutan dan terambil oleh manusia ubtuk bahan pondasi Ruma ini akan membawa malapetaka bagi penghuni Ruma. Begitu juga kayu itu, ada juga miliknya penguasa penguasa hutan yang tak boleh digunakan manusia, begitu juga rotan sebagai bahan pengikat ada juga miliknya penguasa Hutan (Begu).

Datu itu memiliki pengetahuan metafisik yang dapat melihat, mendengar dan mencium yang tak dapat dilihat dan didengar oleh manusia biasa. Untuk memulai pembangunan ruma dan memasuki ruma, datu harus membuka buku Porhalaan/ sejenis buku pedoman orang Batak.

Di dalam buku Porhalaan ada ditunjukkan waktu kapan begu berdiam diri, kapan bersantai, kapan mengganggu, makanya harus ada masyarakat Batak pada zaman dahulu percaya akan Sumangot dan begu, yaitu roh nenek moyang yang selalu hidup disebut tondi orang yang sedang bermimpi dianggap rohnya sedang bepergian dan mengembara. Apa yang dialaminya dalam pengembaraan itulah mimpinya.

Roh berpusat dalam kepala (simanjujung). Kepala orang Batak tidak boleh dilangkahi, bisa-bisa rohnya merasa malu, terkejut atau melompat. Itulah sebabnya orang Batak pada acara-acara tertentu meletakkan beras sedikit di atas kepala (manjomput boras si pir ni tondi) misalnya kalau kebakaran rumah, kedatangan menantu, anak yang sudah lama merantau dan pulang ke rumah.

Orang Batak selalu suka menyebutkan perkataan Horas. Perkataan itu sama dengan keras atau kokoh; kekar, di dalam Bahasa Indonesia orang berjumpa satu sama lain mengucapkan Horas, para pemimpin (Presiden-Menteri-Gubernur dll) yang datang berkunjung ke daerah Toba selalu disambut dengan suara gemuruh Horas…horas, ada pula ucapan Horas Bangso Batak maksudnya supaya roh orang itu keras, kuat, kokoh. Karena orang Batak itu selalu mengutamakan Pir ni Tondi (kerasnya roh).

Orang Batak yang pintar dan dituakan di masyarakat juga digolongkan Datu Perkataan Datu berasal dari kata Da+Tu. Perkataan Da sering digunakan untuk menghormati seseorang misalnya Da inang (ibu), Da tulang, Da ompung (nenek).

Datu, diyakini selalu mengatakan yang benar, mensyaratkan kebenaran yang tidak diketahui kebanyakan orang. Mengatakan yang benar “tutu”, dikuatkan dengan pernyataan “nda-tutu” atau “da-tutu”. Sama halnya pernyataan serang ibu “da-inang”.
Istilah dan pemahaman arti Datu mulai bergeser saat terjadinya pembohongan dan kekebasan mengaktualisasikan diri dalam masyarakat. Kesalahan yang pernah terjadi dilakukan seorang datu akhirnya berdampak kepada merosotnya penilaian tentang Datu.
Datu, saat ini cenderung diartikan hanya sekedar ahli pengobatan dan nujum, perdukunan diartikan pula perilaku perbuatan jelek kepada orang lain seperti santet dan lain sebagainya.

BAHAGIAN-BAHAGIAN RUMA BATAK

Menurut tingkatannya Ruma Batak itu dapat dibagi menjadi 3 bagian :
1. Bagian Bawah (Tombara) yang terdiri dari batu pondasi atau ojahan tiang-tiang pendek, pasak (rancang) yang menusuk tiang, tangga (balatuk)
2. Bagian Tengah (Tonga) yang terdiri dari dinding depan, dinding samping, dan belakang
3. Bagian Atas (Ginjang) yang terdiri dari atap (tarup) di bawah atap urur diatas urur membentang lais, ruma yang lama atapnya adalah ijuk (serat dari pohon enau).

Bagian bawah berfungsi sebagai tempat ternak seperti kerbau, lembu dll. Bagian tengah adalah ruangan tempat hunian manusia. Bagian atas adalah tempat-tempat penyimpanan benda-benda keramat (ugasan homitan).

Menurut seorang peneliti dan penulis Gorga Batak (Ruma Batak) tahun 1920 berkebangsaan Belanda bernama D.W.N. De Boer, di dalam bukunya Het Toba Batak Huis, ketiga benua itu adalah :
1. Dunia atau banua toru (bawah)
2. Dunia atau banua tonga (tengah)
3. Dunia atau banua ginjang (atas)

Selanjutnya orang Batak Toba yang lama telah berkeyakinan bahwa ketiga dunia (banua) itu diciptakan oleh Maha Dewa yang disebut dengan perkataan Mula Jadi Na Bolon. Seiring dengan pembagian alam semesta (jagad raya) tadi yang terdiri dari 3 bagian, maka orang Batak Toba pun membagi/ merencanakan ruma tradisi mereka menjadi 3 bagian.

Rumah tradisi mempunyai tiga tingkat sesuai dengan tingkat kosmos, demikian tulisan Achim Sibeth seorang the Batak peoples of atap (tarup). Atap rumah tradisi itu adalah ijuk (serat batang pohon enau) yang disusun dengan tebal  20 cm rapi dan berseni. Di bawah ijuk ada lais-lais kecil yang banyak, bahannya diambil dari pohon enau juga dinamai hodong. Di atas ijuk tersebut ditaruh dengan lidi tarugit itu bukan asal diletakkan semuanya, disusun dengan seni Batak tertentu sehingga bagian atas ruma Batak itu nampak gagah, anggun, dan berseni.

Tentang tarugit

Tarugit adalah suatu benda untuk menciptakan suatu ungkapan yang dapat menjadi suatu pedoman hidup orang Batak Toba. Para orang-orang Batak sering berkata Ni arit tarugit Pora-pora, molo tinean uli teanon do dohot gora, atau dengan kata lain unang hita ripe sitean uli so dohot tumean gora.

Sebagai inti sari dari ungkapan ini adalah uli dan gora, namun uli dan gora adalah 2 kata yang sangat berlawanan tetapi sangat berguna untuk pedoman hidup orang Batak Toba. Uli adalah menggambarkan keberuntungan (laba), kehormatan, kejayaan, keharuman nama. Gora adalah menggambarkan pengeluaran tenaga, modal, pengorbanan waktu dan berbagai perjuangan. Sebagai contoh : Untuk menjadi orang success terkenal/ beruntung atau sebagai orang pintar kita harus mengeluarkan modal yang besar, waktu dan tenaga yang berlebih dan berbagai promosi sebagai goranya.

Untuk menjadi seorang pintar dan sarjana atau jenderal, seseorang harus kuat bekerja dan berjuang serta memakan gizi baik. Dalam pesan para nenek (ompung ta na parjolo) janganlah menjadi manusia ripe. Manusia si ripe artinya orang yang hanya memikirkan dan memperoleh keuntungan tanpa melalui pengorbanan dan perjuangan. Makanya di zaman yang serba canggih ini banyak kita jumpai manusia-manusia yang tidak beres karena manusia itu telah meninggalkan poda ni ompu itu;
Ni arit tarugit pora-pora unang hita ripe sitean uli so dohot tumea gora.

Sunday, November 23, 2008

Ragam Ulos Batak

Ulos JUGIA



Ulos ini disebut juga "Ulos na so ra pipot" atau pinunsaan. Ulos ini biasa dipakai oleh Bapak-bapak. Pada waktu terakhir ini, banyak kita lihat bahwa ulos ini disamperkan kepada orangtua pengantin laki-laki yang disebut sebagai Ulos Pansamot. Ulos Pansamot ini ada juga yang memberikan dari jenis ulos Sibolang maupun dari jenis ulos Ragihotang sesuai dengan kemampuan yang tersedia. Jenis Ulos Jugia ini menurut keyakinan Orang Batak tidak dapat dipakai sembarang orang, kecuali oleh orang yang sudah Saur Matua, yaitu semua anak laki-laki dan perempuan sudah kawin dari semua anaknya itu telah mempunyai cucu. Hanya orang yang demikianlah yang disebut "Na Gabe" yang berhak memakai ulos ini. Selama masih ada anaknya yang belum kawin atau masih ada yang belum inendapat keturunan, walaupun telah mempunyai cucu-cucu dari anak laki-laki dan perempuan lainnya yang telah kawin, belum bisa digolongkan sama dengan tingkatan Saur Matua.

Beratnya aturan pemakaian jenis ulos ini menyebabkan ulos ini merupakan benda langka hingga banyak orang Batak yang tidak mengenalnya. Ulos ini sering merupakan barang warisan orangtua kepada anaknya dan nilainya sama dengan sitompi (emas yang dipakai oleh isteri raja-raja pada waktu pesta).



Ulos RAGIDUP



Ulos ini setingkat di bawah Ulos Jugia. Banyak orang beranggapan Ulos Ragiduplah yang paling tinggi nilainya oleh sebab memang dilihat dari bentuk (motifnya), lebarnya cara penenunannya yang sangat rapi dan teratur, sangat nyata perbedaannya dari ulos-ulos yang lain. Dan memang cara penenunan ulos Ragidup ini sangat sulit, harus teliti sekali, dan hanya dipercayakan pada penenun yang telah cukup banyak mempunyai pengalaman dalam tenun-menenun. Ulos Ragidup sebenamya terdiri dari 5 (lima), bagian yang ditenun secara terpisah-pisah baru kemudian disatukan (diihot) dengan rapi hingga jadi bentuk satu Ulos.

Ada dua sisi Ulos ini sebelah kiri dan sebelah kanan disebut ambi. Bagian tengah ada 3 bagian, di pinggir atas dan pinggir bawah yang disebut "Kepala Ulos", yang hampir mirip bentuknya, tetapi tidak sama benar, disebut namanya "Tinorpa", dan bagian tengahnya merupakan "Badan Ulos", yang disebut "Tor". Penenunan ke lima bagian tersebut dilakukan dengan sangat cermat sekali. Oleh sebab semua motifnya memberikan arti

tersendiri. Oleh sebab itu pada waktu memesan Ulos Ragidup yang berkepentingan perlu menjelaskan maksud penggunaan ulos tersebut atau bilamana hendak membeli yang sudah ada, maka motif-motif ulos tersebut diperiksa secara teliti.

Dahulu kala untuk mempersiapkan penenunan Ulos Ragidup ini sering dilakukan cara gotong-royong oleh 5 orang, masing-masing satu bagian seperti dijelaskan di atas dengan tetap mengindahkan keahlian dan keterampilan 5 orang penenun tersebut. Ulos Ragidup dapat dipakai untuk berbagai keperluan, baik untuk acara dukacita maupun pada acara sukacita, juga dapat dipakai oieh Raja-raja Adat, orang berada, maupun oleh Rakyat biasa, selama memenuhi beberapa pedoman, misalnya diberikan sebagai Ulos Pargomgom, ada juga diberikan sebagai Ulos Pansamot pada acara pesta perkawinan, atau diberikan sebagai Ulos Panggabei pada waktu orangtua meninggal dunia yang telah mencapai satu tingkat hagabeon tertentu, hal-hal mana akan diterangkan lebih jauh nanti. Dalam satu pesta perkawinan ada juga Suhut Sihabolonan yang menyandang Ulos Ragidup, dengan demikian para tamu dapat terus mengenal dan me

mbedakannya dari hasuhuton lainnya yang juga memakai Ulos, tetapi bukan lagi Ulos Ragidup tetapi misalnya Ulos Sibolang, Ragi Hotang dan lain-lain. Seperti kita ketahui dalam setiap upacara adat misalnya pada pesta perkawinan maka landasannya adalah Dalihan Natolu. Maka dalam acara adat tersebut yang menjadi hasuhuton adalah Suhut Sihabolonan bersama-sama Dongan Tubunya sebab dalam kekeluargaan Suku Batak,

kelompok satu marga (Dongan Tubu) adalah "Sisada raga, somba", terhadap kelompok marga lain.

Namun demikian ada pepatah Batak yang mengatakan:

Martanda do Suhut, Marbona sangkalan

Marnata do suhut, Marnampuna Ugasan

Yang dapat diartikan, walaupun pesta itu adalah untuk kepentingan dan atas nama bersama, dimana semua Dongan Tubu berhak tampil dan bersuara dan juga ikut sebagai pengundang, malahan yang menonjol dalam pengurusan dan sebagai Raja Parhata (Parsinabul) adalah dari Dongan Tubu, akan tetapi

kedudukannya dari Suhut Sihabolonan tetap dihargai dan dalam hal-hal tertentu tetap mempunyai hak untuk memberi kata akhir. Oleh sebab itu dengan memakai Ulos Ragidup dapat dengan jelas diketahui oleh para hadirin yang menjadi Suhut Sihabolonan.



Ulos RAGI HOTANG



Dahulu pada jaman Nenek Moyang kita pernah pula Ulos ini diberikan kepada sepasang penganten yang disebut sebagai Ulos Hela. Dengan pemberian Ulos ini dimaksudkan agar ikatan lahir dan batin kedua penganten dapat teguh seperti ikatan rotan (hotang). Tetapi belakangan ini telah banyak, kita lihat bahwa Ulos ini dipergunakan adalah sebagai Ulos Holong. Sehingga ramai-ramailah kerabat keluarga yang menyampaikannya kepada kedua pengantin pada acara pesta perkawinan tersebut.

Pada acara-acara pesta yang lain pun Ulos ini telah banyak dipergunakan umpama, pesta baptisan anak-anak, pesta anak sidi (manghatindangkon haporseaon) disampaikan kepada Boru, Bere, Ibebere dan cucu sebagai tanda turut merasa gembira dan mengucapkan doa syukuran terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk upacara penyambutan tamu-tamu untuk ini muda-muda kita dapat dipersiapkan lengkap memakai Handehande dan Hobahoba dari jenis Ulos Ragi Hotang, sangatlah menarik dan semarak nampaknya. Juga Ulos ini dapat diberikan pada acara mangupaupa dan pesta lain pada acara gembira yaitu pesta-pesta gembira-ria.



Ulos SADUM



Ulos ini penuh dengan warna-warni yang ceria hingga sangat cocok dipakai dan dipergunakan untuk suasana sukacita dan banyak orang yang ingin memiliki. Pada akhir-akhir ini kita perhatikan sesuai dengan permintaan penganten pada acara pesta perkawinannya sudah banyak orangtua memberikan Ulos Sadum ini sebagai Ulos Hela. Cara pemberiannya kepada kedua penganten ialah disampirkannya dari sebelah kanan pengantin laki-laki setinggi bahu terus sampai ke sebelah kiri pengantin perempuan. Ujung sebelah kanan dipegang oleh tangan kanan pengantin laki-laki dan ujung

sebelah kiri dipegang dengan tangan kiri oleh pengantin perempuan lalu disatukan dimuka penganten itu seperti terikat. Dan seterusnya oleh Ibu Penganten perempuan tersebut disampirkanlah 1 (satu) helai kain sarung (mandar) ke atas pundak penganten lelaki Helanya itu.

Begitu indahnya Ulos Sadum itu sehingga sering dipakai Ulos kenang-kenangan diberi kepada pejabat-pejabat yang berkunjung ke Daerah. Baik tamu dalam negeri mapun tamu dari manca Negara. Mereka sangat bangga menerima Ulos yang disematkan di bahunya karena benar-benar merasakan bahwa pemberian ulos tersebut merupakan suatu penghormatan baginya.



Ulos RUNJAT

Ulos ini biasanya dipakai oleh orang kaya atau orang terpandang bepergian pada menghadiri pesta-pesta atau sebagai undangan. Ulos ini dapat juga diberikan kepada pengantin oleh keluarga dekat menurut tohonan Dalihan Natolu diluar hasuhuton Bolon, misalnya Tulang, Pariban, dan Pamarai.

Juga Ulos ini dapat diberikan pada waktu acara mangupaupa dan pesta-pesta lain. Kelima jenis ulos yang disebut di atas adalah merupakan Ulos simpanan, yang hanya kelihatan pada waktu tertentu saja. Karena Ulos ini jarang dipakai, hingga tidak perlu dicuci biasanya cukup dijemur pada siang hari.



Ulos SIBOLANG



Ulos ini dapat dipakai untuk keperluan pada acara untuk keperluan dukacita dan sukacita. Untuk keperluan dukacita biasanya dipilih dari jenisyang warna hitamnya menonjol, sedang bila dalam peristiwa sukacita dipilih dari jenis yang warna putihnya menonjol. Dalam peristiwa dukacita Ulos ini paling banyak dipergunakan orang misalnya untuk Ulos Saurmatua, Ulos sampesampe, harus dipakai dari Ulos ini, tidak boleh dari jenis Ulos yang lain.

Dalam upacara perkawinan ulos ini biasa dipakai sebagai tutup ni ampang dan bisa disandang sebagai Handehande, tetapi harus dipilih dari jenis yang warna putihnya agak menonjol. Inilah yang disebut sibolang "Pamontari". Karena Ulos ini dapat dipakai untuk beberapa keperluan adat maka ulos ini terlihat

paling banyak dipakai dalam upacara adat, hingga dapat dikatakan "memasyarakat".

Harganya juga relatif murah sehingga dapat dijangkau oleh masyarakat banyak. Hanya saja ulos ini tidak biasa dipakai sebagai ulos pangupa atau ulos parompa.



Ulos SURISURI GANJANG

Ulos ini dinamai Ulos surisuri Ganjang karena raginya berbentuk sisir memanjang. Ulos ini dapat diberikan sebagai ulos Hela kepada pengantin baru. Dahulu Ulos ini sebagai sampesampe/handehande. Pada waktu acara menari dalam hal memukul gendang, ulos ini dipergunakan oleh pihak Hulahula untuk manggabei (mangolopi) pihak borunya. Karena itu Ulos ini sering juga disebut Ulos sabesabe.

Ada istimewanya ulos ini yaitu karena panjangnya melebihi Ulos biasa, hingga bisa dipakai sebagai sampesampe, bila dipakai dua lilit pada bahu kiri dan kanan, sehingga kelihatan si pemakai layaknya

memakai 2 buah ulos. Ada pula ulos ini dipakai sebagai ulos parompa sebagai simbol agar mencapai kesehatan dan mencapai umur yang panjang hendaknya.



Ulos MANGIRING



Ulos ini mempunyai ragi yang saling iring mengiringi, melambangkan kesuburan dan kesepakatan. Sering diberikan oleh seorang tua, sebagai ulos parompa kepada cucunya agar seiring dengan pemberian

ulos ini kelak agar lahir adik-adiknya beriringan anak laki-laki dan anak perempuan sebagai temannya seiring dan sejalan.

Sebagai pakaian sehari-hari ulos ini dapat dipakai sebagai talitali (detar) untuk laki-laki dan untuk wanita disebut saong atau tudung. Pada waktu upacara mampe goar ulos ini dapat pula dipakai sebagai bulangbulang diberikan oleh pihak hula hula kepada menantunya.





Ulos BINTANG MARATUR



Ragi ulos ini menggambarkan jejeran bintang yang teratur. Jejeran bintang ini menggambarkan orang yang patuh rukun seia dan sekata dalam ikatan kekeluargaan. Juga dalam hal sinadongan (kekayaan) atau hasangapon (kemuliaan) tidak ada yang timpang baik dalam hak hagabeon (banyak keturunan) anak laki-laki dan perempuan. Semuanya berada dalam tingkatan rata-rata sama. Dalam hidup sehari-hari bahwa hulahula yang berkompeten menyampaikan "Ulos Mula Gabe" kepada borunya yang akan melahirkan anaknya yang pertama. Tujuan pemberian ulos ini adalah menunjukkan rasa kasih sayang orangtua kepada borunya, dalam rangka membangkitkan semangat hidup dan rasa percaya diri kepada borunya dalam persalinannya yang akan datang.

Untuk acara adat yang berkaitan dengan hal di atas biasa disampaikan oleh Hulahula ulos yang diberi nama "Ulos Mula Gabe" ini dari jenis Ulos Bintang Maratur. Disertai doa restu kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmatNya dikaruniakan hendaknya kelahiran anak laki-laki dan perempuan secara teratur kepada borunya. Selanjutnya pada acara adat mampe goar untuk anak yang sulung itu harus diberi dari ulos jenis Bintang Maratur.



Ulos SITOLUNTUHO

Ulos ini dapat dipakai sebagai Ulos Parompa yang diberikan kepada seorang cucu yang baru lahir. Ada pula yang memakai ulos ini sebagai ikat kepala yang disebut namanya tali tali dan oleh wanita ada pula yang memakainya untuk selendang atau handehande. Jenis ulos ini dapat dipakai sebagai tambahan yang dalam istilah adat Batak dikatakan sebagai Ulos Panoropi yang diberikan oleh pihak hulahula kepada pihak boru yang sudah terhitung keluarga jauh. Disebut, sitoluntuho karena raginya berjejer tiga merupakan tuho atau tugal yang biasa dipakai untuk melobang tanah untuk ditanami.



Ulos JUNGKIT

Ulos jenis ini juga disebut ulos na nidongdang atau ulos purada. Purada atau permata merupakan penghias dari ulos tersebut sehingga cantik kelihatannya. Dahulu ulos ini dipakai oleh para anak gadis dari keluarga raja-raja merupakan hoba hoba yang dipakai hingga batas dada. Juga dipakai pada waktu menerima pembesar atau pejabat-pejabat atau waktu pesta yang beragam-ragam.

Pada masa-masa terakhir ini permata yang disebut di atas telah jarang diperdagangkan, maka bentuk permata dari ragi ulos tersebut diganti dengan cara "manjungkit" benang ulos tersebut. Maka disebut nama ulos ini ulos jungkit.



Ulos LOBU LOBU

Masih ada lagi jenis Ulos Batak yang lain, tetapi yang sudah jarang sekali kelihatan dan jarang dipakai dalam acara-acara adat biasa, misalnya Ulos Lobu Lobu yang mempunyai keperluan khusus untuk orang yang sering dirundung kemalangan. Oleh sebab itulah ulos ini jarang sekali sehingga banyak orang tidak mengenalnya lagi.

Ada keistimewaan ulos ini, yaitu sesudah selesai ditenun, rambu dari ulos ini tidak dipotong, dibiarkan saja demikian sebagaimana adanya. Tujuannya supaya baik dipakai sebagai kain sarung, dan bila dipakai sebagai ulos parompa agar anak yang digendong tak mudah jatuh dari gendongan tersebut.

Dinamai ulos lobu lobu (lobu = masuk) agar hal yang terbaik masuk ke dalam rumah pemakainya.

Ulos Lain-lain Sekedar untuk mengetahuinya, dibawah ini disebut beberapa jenis Ulos Batak lainnya:

  • Ragi Panei

  • Ragi Hatirongga

  • Ragi Ambasang

  • Ragi Sidosdos

  • Ragi Sampuboma

  • Ragi Siantar

  • Ragi Sapot

  • Ragi Siimput ni hirik

  • Uos Bolean

  • Ulos Padang rusa

  • Ulos Simata

  • Ulos Happu

  • Ulos Tukku

  • Ulos Lobu-lobu

  • Dan lain-lain.

Asal Mula Danau Si Losung Dan Si Pinggan

Alkisah, pada zaman dahulu di daerah Silahan, Tapanuli Utara, hiduplah sepasang suami-istri yang memiliki dua orang anak laki-laki. Yang sulung bernama Datu Dalu, sedangkan yang bungsu bernama Sangmaima. Ayah mereka adalah seorang ahli pengobatan dan jago silat. Sang Ayah ingin kedua anaknya itu mewarisi keahlian yang dimilikinya. Oleh karena itu, ia sangat tekun mengajari mereka cara meramu obat dan bermain silat sejak masih kecil, hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan pandai mengobati berbagai macam penyakit.

Pada suatu hari, ayah dan ibu mereka pergi ke hutan untuk mencari tumbuhan obat-obatan. Akan tetapi saat hari sudah menjelang sore, sepasang suami-istri itu belum juga kembali. Akhirnya, Datu Dalu dan adiknya memutuskan untuk mencari kedua orang tua mereka. Sesampainya di hutan, mereka menemukan kedua orang tua mereka telah tewas diterkam harimau.

Dengan sekuat tenaga, kedua abang-adik itu membopong orang tua mereka pulang ke rumah. Usai acara penguburan, ketika hendak membagi harta warisan yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, keduanya baru menyadari bahwa orang tua mereka tidak memiliki harta benda, kecuali sebuah tombak pusaka. Menurut adat yang berlaku di daerah itu, apabila orang tua meninggal, maka tombak pusaka jatuh kepada anak sulung. Sesuai hukum adat tersebut, tombak pusaka itu diberikan kepada Datu Dalu, sebagai anak sulung.

Pada suatu hari, Sangmaima ingin meminjam tombak pusaka itu untuk berburu babi di hutan. Ia pun meminta ijin kepada abangnya.

“Bang, bolehkah aku pinjam tombak pusaka itu?”

“Untuk keperluan apa, Dik?”

“Aku ingin berburu babi hutan.”

“Aku bersedia meminjamkan tombak itu, asalkan kamu sanggup menjaganya jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Bang! Aku akan merawat dan menjaganya dengan baik.”

Setelah itu, berangkatlah Sangmaima ke hutan. Sesampainya di hutan, ia pun melihat seekor babi hutan yang sedang berjalan melintas di depannya. Tanpa berpikir panjang, dilemparkannya tombak pusaka itu ke arah binatang itu. “Duggg…!!!” Tombak pusaka itu tepat mengenai lambungnya. Sangmaima pun sangat senang, karena dikiranya babi hutan itu sudah roboh. Namun, apa yang terjadi? Ternyata babi hutan itu melarikan diri masuk ke dalam semak-semak.

“Wah, celaka! Tombak itu terbawa lari, aku harus mengambilnya kembali,” gumam Sangmaima dengan perasaan cemas.

Ia pun segera mengejar babi hutan itu, namun pengejarannya sia-sia. Ia hanya menemukan gagang tombaknya di semak-semak. Sementara mata tombaknya masih melekat pada lambung babi hutan yang melarikan diri itu. Sangmaima mulai panik.

“Waduh, gawat! Abangku pasti akan marah kepadaku jika mengetahui hal ini,” gumam Sangmaima.

Namun, babi hutan itu sudah melarikan diri masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia pun memutuskan untuk kembali ke rumah dan memberitahukan hal itu kepada Abangnya.

“Maaf, Bang! Aku tidak berhasil menjaga tombak pusaka milik Abang. Tombak itu terbawa lari oleh babi hutan,” lapor Sangmaima.

“Aku tidak mau tahu itu! Yang jelas kamu harus mengembalikan tombok itu, apa pun caranya,” kata Datu Dalu kepada adiknya dengan nada kesal.”

Baiklah, Bang! Hari ini juga aku akan mencarinya,” jawab Sangmaima.

“Sudah, jangan banyak bicara! Cepat berangkat!” perintah Datu Dalu.

Saat itu pula Sangmaima kembali ke hutan untuk mencari babi hutan itu. Pencariannya kali ini ia lakukan dengan sangat hati-hati. Ia menelesuri jejak kaki babi hutan itu hingga ke tengah hutan. Sesampainya di tengah hutan, ia menemukan sebuah lubang besar yang mirip seperti gua. Dengan hati-hati, ia menyurusi lubang itu sampai ke dalam. Alangkah terkejutnya Sangmaima, ternyata di dalam lubang itu ia menemukan sebuah istana yang sangat megah.

“Aduhai, indah sekali tempat ini,” ucap Sangmaima dengan takjub.

“Tapi, siapa pula pemilik istana ini?” tanyanya dalam hati.

Oleh karena penasaran, ia pun memberanikan diri masuk lebih dalam lagi. Tak jauh di depannya, terlihat seorang wanita cantik sedang tergeletak merintih kesakitan di atas pembaringannya. Ia kemudian menghampirinya, dan tampaklah sebuah mata tombak menempel di perut wanita cantik itu. “Sepertinya mata tombak itu milik Abangku,” kata Sangmaima dalam hati. Setelah itu, ia pun menyapa wanita cantik itu.

“Hai, gadis cantik! Siapa kamu?” tanya Sangmaima.

“Aku seorang putri raja yang berkuasa di istana ini.”

“Kenapa mata tombak itu berada di perutmu?”

“Sebenarnya babi hutan yang kamu tombak itu adalah penjelmaanku.”

“Maafkan aku, Putri! Sungguh aku tidak tahu hal itu.”

“Tidak apalah, Tuan! Semuanya sudah terlanjur. Kini aku hanya berharap Tuan bisa menyembuhkan lukaku.”

Berbekal ilmu pengobatan yang diperoleh dari ayahnya ketika masih hidup, Sangmaima mampu mengobati luka wanita itu dengan mudahnya. Setelah wanita itu sembuh dari sakitnya, ia pun berpamitan untuk mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya.

Abangnya sangat gembira, karena tombak pusaka kesayangannya telah kembali ke tangannya. Untuk mewujudkan kegembiraan itu, ia pun mengadakan selamatan, yaitu pesta adat secara besar-besaran. Namun sayangnya, ia tidak mengundang adiknya, Sangmaima, dalam pesta tersebut. Hal itu membuat adiknya merasa tersinggung, sehingga adiknya memutuskan untuk mengadakan pesta sendiri di rumahnya dalam waktu yang bersamaan. Untuk memeriahkan pestanya, ia mengadakan pertunjukan dengan mendatangkan seorang wanita yang dihiasi dengan berbagai bulu burung, sehingga menyerupai seekor burung Ernga. Pada saat pesta dilangsungkan, banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukkan itu.

Sementara itu, pesta yang dilangsungkan di rumah Datu Dalu sangat sepi oleh pengunjung. Setelah mengetahui adiknya juga melaksanakan pesta dan sangat ramai pengunjungnya, ia pun bermaksud meminjam pertunjukan itu untuk memikat para tamu agar mau datang ke pestanya.

“Adikku! Bolehkah aku pinjam pertunjukanmu itu?”

“Aku tidak keberatan meminjamkan pertunjukan ini, asalkan Abang bisa menjaga wanita burung Ernga ini jangan sampai hilang.”

“Baiklah, Adikku! Aku akan menjaganya dengan baik.”

Setelah pestanya selesai, Sangmaima segera mengantar wanita burung Ernga itu ke rumah abangnya, lalu berpamitan pulang. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan menyelinap dan bersembunyi di langit-langit rumah abangnya. Ia bermaksud menemui wanita burung Ernga itu secara sembunyi-sembunyi pada saat pesta abangnya selesai.

Waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pada malam harinya, Sangmaima berhasil menemui wanita itu dan berkata:

“Hai, Wanita burung Ernga! Besok pagi-pagi sekali kau harus pergi dari sini tanpa sepengetahuan abangku, sehingga ia mengira kamu hilang.”

“Baiklah, Tuan!” jawab wanita itu.

Keesokan harinya, Datu Dalu sangat terkejut.

Wanita burung Ernga sudah tidak di kamarnya. Ia pun mulai cemas, karena tidak berhasil menjaga wanita burung Ernga itu. “Aduh, Gawat! Adikku pasti akan marah jika mengetahui hal ini,” gumam Datu Dalu. Namun, belum ia mencarinya, tiba-tiba adiknya sudah berada di depan rumahnya.

“Bang! Aku datang ingin membawa pulang wanita burung Ernga itu.

Di mana dia?” tanya Sangmaima pura-pura tidak tahu.

“Maaf Adikku! Aku telah lalai, tidak bisa menjaganya. Tiba-tiba saja dia menghilang dari kamarnya,” jawab Datu Dalu gugup.

“Abang harus menemukan burung itu,” seru Sangmaima.

“Dik! Bagaimana jika aku ganti dengan uang?” Datu Dalu menawarkan.

Sangmaima tidak bersedia menerima ganti rugi dengan bentuk apapun. Akhirnya pertengkaran pun terjadi, dan perkelahian antara adik dan abang itu tidak terelakkan lagi. Keduanya pun saling menyerang satu sama lain dengan jurus yang sama, sehingga perkelahian itu tampak seimbang, tidak ada yang kalah dan menang.

Datu Dalu kemudian mengambil lesung lalu dilemparkan ke arah adiknya. Namun sang Adik berhasil menghindar, sehingga lesung itu melayang tinggi dan jatuh di kampung Sangmaima. Tanpa diduga, tempat jatuhnya lesung itu tiba-tiba berubah menjadi sebuah danau. Oleh masyarakat setempat, danau tersebut diberi nama Danau Si Losung.

Sementara itu, Sangmaima ingin membalas serangan abangnya. Ia pun mengambil piring lalu dilemparkan ke arah abangnya. Datu Dalu pun berhasil menghindar dari lemparan adiknya, sehingga piring itu jatuh di kampung Datu Dalu yang pada akhirnya juga menjadi sebuah danau yang disebut dengan Danau Si Pinggan.

Demikianlah cerita tentang asal-mula terjadinya Danau Si Losung dan Danau Si Pinggan di daerah Silahan, Kecamatan Lintong Ni Huta, Kabupaten Tapanuli Utara.

Cerita di atas termasuk ke dalam cerita rakyat teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada dua pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran, yaitu agar tidak bersifat curang dan egois.

- sifat curang. Sifat ini tercermin pada sifat Sangmaima yang telah menipu abangnya dengan menyuruh wanita burung Ernga pergi dari rumah abangnya secara sembunyi-sembunyi, sehingga abangnya mengira wanita burung Ernga itu hilang. Dengan demikian, abangnya akan merasa bersalah kepadanya.

- sifat egois. Sifat ini tercermin pada perilaku Sangmaima yang tidak mau memaafkan abangnya dan tidak bersedia menerima ganti rugi dalam bentuk apapun dari abangnya.

note: Ernga - kumbang hijau yang menyerupai burung, yang sangat nyaring suaranya ketika menjerit pada waktu maghrib.

Wednesday, November 5, 2008

Laporkan Preman Lewat SMS dan Email

Jakarta - Selain lewat telepon, aksi premanisme dan kejahatan jalanan dapat dilaporkan sang korban melalui SMS maupun email. Layanan ini buka 24 jam nonstop.

"Ini baru kita luncurkan, kita harap masyarakat bisa memberikan masukan dan nomor ini terbuka 24 jam," kata Kepala Satuan Reserse Mobile (Kasatresmob), AKBP Ahmad Rivai, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (5/11/2008).

Dikatakan dia, untuk SMS dapat dikirimkan ke 0815.9166060. Sedangkan untuk telepon bisa hubungi 0811.81.3008 atau ke piket resmob di 5234.250.

"Kalau mau email juga bisa ke Resmob_pmj@yahoo.com. Kita akan berusaha menangani pengaduan masyarakat tersebut," ujarnya.

Dalam kesempatan terpisah, Pelaksana Harian Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya AKBP Mahbub menambahkan, masyarakat yang memiliki informasi premanisme dan kejahatan jalanan dapat menelepon ke nomor 021. 523.429, dan 087.883.054.782. ( aan / dwn )

Adukan Preman ke Call Center Polres Jakarta Timur

Jakarta - Bagi anda yang sering merasa diresahkan oleh ulah para preman, kini anda bisa mengadukan langsung ke polisi. Untuk anda yang berada di wilayah Jakarta Timur, inilah beberapa nomor pejabat kepolisian resort Jakarta Timur yang bisa anda hubungi secara langsung.

Kapolres Jakarta Timur Kombes Hassanudin 021.68681985 / 8191476
Wakapolres Jakarta Timur AKBP Herry Purnomo 08161403749
Kabag Operasi AKBP Kuncoro Yakti 08161828557/70998557
Kabag Binamitra AKBP Sumardi 081398218999
Kabag Min AKBP Sumbono 0818187605
Kasat Intelkam Kompol Sumarman 08161113472
Kasat Reskrim Kompol Roycke Harry Langie 08128949494
Kasat Narkoba Kompol Gembong Yudha 0818181695
Kasat Samapta Kompol L. Sutardi 0818704957
Kasat Lantas AKP I Wayan Gede Ardana 081573014999
Kapolsek Pasar Rebo Kompol Suhartono 087880083967
Kapolsek Pulogadung Kompol P. Simarmata 081811175131
Kapolsek Cakung Kompol Yayat Popon 081382861995
Kaspolsek Ciracas Kompol Ngadiya 0818795174
Kapolsek Duren Sawit Kompol Titik Setyowati 0811184810
Kapolsek Kramat Jati Kompol Patar L Touran 081380541959
Kapolsek Jatinegara AKP Sriyanto 08159585257
Kapolsek Cipayung Kompol Suwandi 081388766222
Kapolsek Makassar AKP Senen 08129447555

"Silakan Anda hubungi kami apabila Anda melihat atau menjadi korban premanisme. Telepon kami 24 jam," ujar Kapolres Jakarta Timur, Kombes Hassanudin ketika dihubungi detikcom, Kamis (6/11/2008).(mei/nwk)

Tuesday, November 4, 2008

Takut Preman....?

Jakarta - Anda menjadi korban preman atau kapak merah? Jika iya, Anda bisa langsung mengontak kapolda dan kapolres setempat.

Ajakan ini dilontarkan Kabareskrim Mabes Polri Irjen Pol Susno Duaji
dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (4/11/2008).

Jika menjadi korban preman, Anda bisa mengontak:

Kapolda Jawa Timur 0812.1030.086.
Kapolda DIY 0812.3876.159.
Kapolwiltabes Semarang 0812.710.7771.
Kapolwiltabes Surabaya 0811.611.980.
Kapoltabes Yogyakarta 0815.7741415
Kapoltabes Medan 0812.64920007.
Kapolres Jakarta Pusat 0811.902355
Kapolres Jakarta Selatan 0812.111.8686
Kapolres Jakarta Timur 081.222.12212
Kapolres Jakarta Barat 0813.111.97777
Kapolres Jakarta Utara 0811.844321
Kapolres Bekasi 0817.0868686
Petugas KP3 Bandara Soekarno-Hatta 0811.854.170
Kapolres Depok 0812.303.9065.
Kapolres Bekasi Kabupaten 0812.123.8989
Kapolres Tangerang Kabupaten 021.93. 778989.
Kapolres Tangerang 0815.1111.8778
Kapolres KP3 Tanjung Priok 0811.891213.
Kapolres Kepulauan Seribu 0818.617171

Menurut Susno, operasi pemberantasan kejahatan jalanan ini digelar sejak 2 November 2008 hingga masyarakat aman. Sasaran mulai dari preman, kampak merah, parkir liar, hingga debt collector.

“Kalau masyarakat merasa aman, operasi tetap tidak akan berhenti sampai preman tidak ada,” cetus Susno.

Bagaimana jika aparat tidak merespon? “Silakan hubungi Direktorat I Keamanan Transnasional Bareskrim Mabes Polri nomor 021.721.8941 dan bisa langsung ke Kabareskrim 0815.977.1977,” kata Susno.

Dikatakan dia, pejabat di wilayah akan diminta pertanggungjawaban.

“Apabila ada kapolres yang tidak merespon, tolong ditulis besar-besar. Apabila kapolres marah laporkan karena berarti dia bekerjasama dengan preman,” papar dia.

Tuesday, October 21, 2008

Longwave DXing

"Longwave" refers to all frequencies below the lower end of the AM broadcasting band at 540 kHz. The lower limit of what frequencies constitute "radio" is not precisely defined, but 5 kHz is a widely accepted starting point for the radio spectrum.

For many years, radio hobbyists ignored longwave because most commonly available communications receivers only tuned down to 540 kHz. However, most new receivers today tune down to at least 150 kHz and longwave DXing is enjoy new popularity.

One big problem when tuning longwave is electrical noise from power lines, electrical devices, motors, etc. Longwave is far more susceptible to such noise than higher frequencies, and you might hear only a loud "buzz" when you tune across longwave from your location. Also, static crashes from thunderstorms can be severe, especially in summer. To combat noise, many longwave DXers use an indoor "loop" antenna that allows rejection of nearby electrical noise sources. Other longwave DXers use special phasing units to reduce noise levels.

Reception distance on longwave is similar to that on the AM broadcast band, as are reception patterns. Greater range is possible when the signal is reaching you over a water path, as is often the case in coastal regions. At night, reception of stations from hundreds or even thousands of miles away is possible. Night reception on longwave is better in winter than in summer, and the equinoxes often give the best propagation.

Unlike the shortwave frequencies above 1700 kHz, the longwave spectrum is allocated on a more "ad hoc" basis, with different users and services frequently sharing the same frequency range. Here is a general description of the world below 540 kHz:

Below 155 kHz: Signals below 155 kHz don't propagate very well via the ionosphere; the absorption is too great even at night during winter. These signals can travel for thousands of miles via ground wave, but high transmitter powers are required. Signals at very low frequencies, about 50 kHz and lower, can penetrate sea water very well. As a result, these frequencies are used by military forces of the major powers, especially for communication with submarines. The U.S. Navy's "Omega" navigation system is found on 10.2, 12, and 13.6 kHz. The Russian navy operates a similar system on 15.62 kHz. The U.S. Air Force has a FSK-based communications system on 29.5 and 37.2 kHz. This system was established to provide a backup in case nuclear explosions rendered the ionosphere useless for propagation. Miscellaneous FSK-based stations are found here for direct communications with submarines and naval forces.

150 to 175 kHz: In the United States, this range is used by the U.S. Air Force's ground wave emergency network (GWEN), a packet-based network to provide communications during a nuclear war. Transmitters are kept continuously operational here on a "standby" basis, and it's easy to hear their loud, "raspy" signal bursts.

155 to 281 kHz: This is another AM broadcasting band in Europe and parts of Asia. In Europe, there are numerous high powered (1,000,000 watts or more) stations here. These stations are capable of covering an entire European nation like France or Germany with reliable signals around the clock. Although ionospheric propagation is not good at these frequencies, the high powers used means that many of these broadcasters can be heard along the Atlantic seaboard during the fall and winter. Best reception is usually from local sunset to about 0600 UTC. A few longwave stations in Asiatic Russia can be heard on the Pacific Coast beginning an hour or so before local sunrise.

160 to 190 kHz: In the United States, this range is open to unlicensed experimental transmissions. Transmitter power is restricted to one watt, and the maximum antenna length (including feedline) can be no more than 50 feet. Any mode can be used. Some of these "lowfer" (as they are known) unlicensed stations have been heard several hundreds of miles away under favorable conditions.

200 to 430 kHz: This range is used mainly by navigation beacons, which continuously repeat their call signs in Morse code. Call signs do not follow the international allocations given elsewhere on this site. Instead, the call signs usually give an idea of the location of the beacon. For example, beacon "FT" on 365 kHz is located at Fort Worth, Texas.

430 to 500 kHz: This range is used for two-way Morse code communications between ships at sea and shore stations. Shore stations use three-letter callsigns, while ship station callsigns consist of four letters. All callsigns are from international allocations. The number of stations you can hear in this range is rapidly declining due to a shift in maritime communications to satellites and shortwave frequencies. After February, 1999, radio operators skilled in Morse code were no longer required on ships sailing in international waters.

500 kHz: This was an international ship calling and distress frequency for maritime communications in Morse code. It is no longer used, and after February, 1999, ship stations and shore stations were no longer required to monitor this frequency for calls.

500 to 540 kHz: This segment is populated by miscellaneous beacons and stations. Perhaps the most interesting frequency here is 518 kHz, used for transmission of maritime safety and navigation information via FSK. This system is known as NAVTEX, and includes weather bulletins as well as notices of missing and overdue vessels. 530 kHz is used in the United States and Canada for low powered road and traffic information broadcasts.

A good source of information about longwave reception techniques, stations currently being heard, and experimental stations currently being heard is the Longwave Club of America (LWCA). A good directory of beacon stations active in North America is the Aero/Marine Beacon Guide published by Ken Stryker. Information on the latest edition can be obtained by sending a self-addressed stamped envelope to Ken Stryker, 2856-G West Touhy Ave., Chicago, IL, 60645.

Selecting a Scanner

Scanners are much different than other consumer-level radios----or even shortwave radios, for that matter. If you're looking to buy your first scanner radio, you probably feel a bit confused and overwhelmed by the features and specifications of the models you're considering!

As with most consumer items, there is no one "best" scanner radio for everyone. For example, if you want to simply listen to your local police and fire departments, a basic, low cost scanner will do fine. On the other hand, you can easily spent over $1000 for a scanner capable of high performance over a broad frequency range in a variety of modes.

General Considerations

The first thing you need to consider about any scanner is what frequency ranges you're interested in monitoring. To get a better idea of what can be heard on different ranges, click here to visit The World About 30 MHz section of this site.

Portable scanners have become popular recently. Some are small enough to fit into a shirt pocket and let you follow the action at sporting events, exhibitions, shows, accident scenes, etc. However, a portable scanner will usually cost more than a home (or "base") unit of comparable features and performance. And remember that having a scanner visible at certain places and events can result in a quick escort out the door! Many avid scanner fans have both a home scanner and a portable unit.

Scanners really differ in the number of channels you can program in them. Some low cost scanners only have a couple of dozen channels available, while some deluxe scanners have 1000 or more channels you can program. The best advice here is to buy a scanner with more channels than you think you will need, as you'll probably run across interesting new frequencies you want to monitor. Maybe the most common wish of scanner fans is that their radios had more channels!

Make sure you understand how new frequencies can be programmed into a scanner. Some scanners will let you enter new frequencies only in specific increments, such as at 5 kHz intervals. Others force you to use the standard spacing between channels commonly used on a given band. More advanced scanners let you enter frequencies down to a single kilohertz. A scanner that tunes only in fixed increments means you may miss hearing some interesting things.

Most scanners automatically tune narrow band (that is, deviation of 5 kHz or less) FM on all frequencies except for the 108 to 136 and 225 to 400 MHz aviation bands, where AM is used. Some scanners allow you to receive wide band FM (deviation of 10 kHz or more) as well. This will let you monitor the FM broadcast band, television audio, and some government transmissions. However, use of wide band FM outside of the FM broadcast band and television channels is rare. A few scanners, such as the Icom R10 let you receive SSB as well, but SSB is seldom used above 30 MHz outside the ham radio bands, and even there narrow band FM heavily dominates. For most listening, a scanner that tunes narrow band FM (and AM on the aviation bands) should be more than adequate.

If you would like to monitor scanner frequencies and AM and shortwave, then consider a wideband receiver. Such radios offer exceptional frequency coverage and models such as the Icom R5 are quite affordable.

Understanding Specifications

The importance of the specifications indicating a scanner's performances largely depends on where you live. If you live in a large urban area, you will need a high degree of selectivity (the ability to reject interfering signals) because of the large number of radio signals found in urban areas. If you live in a rural area with few stations, then greater sensitivity (the ability to detect weak radio signals) will be more important.

Sensitivity is measured in microvolts, abbreviated mV. The lower the number of microvolts, the weaker the signal that the scanner can detect and produce intelligible audio from.

Selectivity is measured in kHz for a certain level of interference rejection. This rejection is measured in decibels (dB), usually at 50 dB. A "50 dB" rejection means an interfering signal is reduced to a level 100,000 times weaker than its actual strength. If a scanner has a selectivity specification of "40 kHz at 50 dB," this means signals 40 kHz or more away from the signal you want to hear are reduced in strength 100,000 times.

If you live in a rural area, good sensitivity is more important than good selectivity. With fewer stations to hear, you need to be able to catch weak signals and don't have to worry as much about interference. In an urban area, the opposite is true; your main concern is in rejecting interference from stations on adjacent channels, not catching weak signals. In a rural area, narrow band FM selectivity of 40 kHz at 50 dB will usually be adequate, while in an urban environment you will usually need selectivity of 30 kHz at 50 dB or better.

Signals can also "mix" in a scanner's internal circuits, producing false signals known as images. Images are an unavoidable by-product of a scanner's circuitry, but the better scanners can reject most of these phantom signals and reduce their strength. Image rejection is how this is measured, and a good scanner should have image rejection of 50 dB or greater.

While there are some exceptions, as a general rule you do get what you pay for in scanner performance. More expensive models will have better sensitivity, selectivity, and image rejection than less expensive units.

Some municipalities use trunking systems whereby a group or block of frequencies are used on a rotating basis. To properly copy such transmissions, you will need a Trunk Tracking scanner such as the Bearcat BC245XLT with Trunk Tracking that can "follow" the various channels as they are used and changed.

Some municipalities are now transmitting in APCO25 digital voice mode. Traditional scanners cannot "decode" these voice transmissions. Some of the newer scanners such as the Bearcat BC296D can handle both Trunk Tracking and Digital transmissions.

Scanner Features and Controls

Here are explanations for features and controls commonly found on scanners:

  • Attenuator. This reduces the sensitivity of a scanner in order to reduce images and other effects of strong nearby signals.
  • Audio squelch. This resumes scanning if a signal has no audio on a channel after pausing on the channel for a few seconds.
  • Autoload. This automatically stores new frequencies found during a search into the scanner's memories.
  • Bank. This is a way of dividing a scanner's channels into smaller, manageable blocks for specific purposes.
  • Delay. This determines how long a scanner pauses on a channel for another transmission before resuming scanning.
  • Hold. This lets you stop scanning on a channel so you can monitor it continuously.
  • Lockout. This causes the scanner to skip over a channel during its scanning sequence.
  • Priority channel. When a signal is present on a priority channel, the scanner switches to it regardless of whether signals are present on other channels being scanned.
  • Search. With this, the scanner tunes through a range and stops when an active frequency is found. This is very handy for finding new stations and users not listed in frequency directories.
  • Squelch. This silences the scanner's audio until a signal of a certain strength is received. The squelch level can be manually set.

The World Above 30 MHz

Since VHF and UHF propagation is usually "line of sight," frequency allocations and usage are far more "localized" on frequencies above 30 MHz. However, there are some broad allocations for different purposes used in the United States and most of the rest of the Americas. The following is a summary of the main frequency bands found above 30 MHz. Please remember that listening to cellular phones, cordless phones and wireless intercoms is illegal in the United States.

30 to 50 MHz: This is known as the "VHF low" band. Most transmissions will be in narrow band FM with channels spaced at 20 kHz intervals. A wide variety of stations can be heard on this range, including businesses, federal, state, and local governments, law enforcement agencies, and various industrial radio services.

50 to 54 MHz: This is the six-meter ham radio band. The first megahertz is mainly used for USB, AM, CW, FSK modes, digital modes. The remainder of the band is used for narrow band FM, both simplex and through repeaters. 52.525 MHz is widely used as a simplex and calling frequency.

54 to 72 MHz: Television channels 2, 3, and 4 are located in this range. The video portions will sound like distorted noise on a scanner. The audio portions are in FM, but will sound "clipped" and "tinny" unless your scanner can tune this range in wide band.

72 to 76 MHz: This range is used for remote control signals for model airplanes and garage door openers, wireless microphones (including those used by law enforcement agencies), and two-way communications inside factories, warehouses, and other industrial facilities. Most channels are spaced at 20 kHz intervals.

76 to 88 MHz: This range is used for television channels 5 and 6.

88 to 108 MHz: This is where the FM broadcasting band is located.

108 to 136 MHz: This band is used for civilian aeronautical communications and all transmissions are in AM. Aeronautical beacons occupy 108 to 118 MHz; these continuously transmit a station identification and are used for navigation. The rest of the band is used for traffic between aircraft and air traffic control towers on channels spaced at 25 kHz intervals.

136 to 138 MHz: This segment is mainly used by weather satellites to transmit photographic images.

138 to 144 MHz: The various military services are the biggest users of this segment in the United States, with most transmissions in narrow band FM and spaced at 5 kHz intervals. You can also hear ham radio operators who are members of the military affiliate radio service (MARS).

144 to 148 MHz: This is the two-meter ham radio band. This is the most heavily used ham radio band in the United States. USB and various FSK modes are mainly used in the first 500 kHz, and the rest of the band is FM. Most activity is through repeaters, although simplex activity is found on frequencies like 146.52 MHz. For more information about this band, visit the ham radio section of this site.

148 to 150.8 MHz: The usage here is similar to the 138 to 144 MHz range.

150.8 to 174 MHz: This is known as the "VHF high" band, and it is used by the same wide spectrum of users as the 30 to 50 MHz band.

174 to 216 MHz: This range is used for television channels 7 through 13.

216 to 220 MHz: In the United States, this band is used by the automated maritime telecommunication system (AMTS) used on major inland waterways such as the Great Lakes and the Mississippi river. Communications are in FM on channels spaced at 12.5 kHz intervals. However, the 219 to 220 MHz range is shared with ham radio. On this range, ham stations can be used to relay digital messages to other hams, subject to a maximum power of 50 watts. Hams must first register to use their shared allocation, and cannot use it within range of maritime users.

220 to 222 MHz: This range was reallocated a few years ago from ham radio to land mobile radio. Frequency usage and modulation have not yet been finalized, although new narrow bandwidth modes are expected to be used.

222 to 225 MHz: This is the 1.25-meter ham radio band. It is mainly used for FM communication through repeaters, although it is much less heavily used than the two-meter band.

225 to 400 MHz: This very wide band is used for military aviation communications in AM. Most channels are 100 kHz apart.

400 to 406 MHz: This range is used primarily by government and military stations in FM.

406 to 420 MHz: In the United States, this band is used exclusively by the federal government. All transmissions are in FM, with most channels spaced at 25 kHz intervals.

420 to 450 MHz: This is the 70-centimeter ham radio band, second in popularity to the two-meter band on VHF/UHF. The 420 to 444 MHz range is used for USB, digital modes, ham television, and ham communications satellites. The 444 to 450 MHz range is used for FM, mainly in conjunction with repeaters.

450 to 470 MHz: This is the "UHF" band on most scanners, used for many of the same purposes as the 30 to 50 and 150.8 to 174 MHz bands.

470 to 512 MHz: This is known as the "UHF-T" band, and covers the same frequency range as television channels 14 to 20. This band is used for many of the same purposes as the "UHF" band in areas of the country without television stations on those channels.

512 to 825 MHz: This range is where television channels 21 through 72 are located.

825 to 849 MHz: This range is used for cellular telephone service, with cellular units transmitting here. Listening in this range is prohibited.

849 to 851 MHz: This band is used to provide telephone service from aircraft in flight. SSB is generally used here. Listening in this range is prohibited.

851 to 866 MHz: This is used by many of the same users as the 450 to 470 MHz band, with channels spaced at 25 kHz intervals.

866 to 869 MHz: This allocation is used by public safety and law enforcement agencies.

869 to 894 MHz: This range is used for cellular telephone service, with cells transmitting here. Listening in this range is prohibited.

894 MHz and above: These higher frequencies are where new communications technologies, such as wireless local area networks, spread spectrum telephony, and direct satellite broadcasting are being implemented.

AM Band DXing

Each year, dedicated listeners manage to snag stations from thousands of miles away on the AM broadcast band (540 to 1700 kHz). In fact, the AM band is where DXing began.

Back in the 1920s, the first radio stations were anxious to know how far away they were being heard. They asked for reception reports from listeners, and promised to reply to reports with souvenir postcards confirming that the listener indeed heard the station. The entire hobby of "SWLing" grew from those beginnings!

Getting start in AM band DXing is easy—just tune across the AM band from your local sunset to your local sunrise! If you mainly keep your AM radios set to local stations, you may be surprised at how well you can hear stations from hundreds and even thousands of miles away at night using an ordinary AM radio.

In North and South America, AM stations are spaced on channels at 10 kHz intervals (540, 550, 560, etc.). Most AM stations are located from 540 to 1600, with new stations soon to take to the air in the 1610 to 1700 kHz. When you tune the AM band at night, you will soon discover that there are a lot of stations active on the AM band! Despite the seeming cacophony, AM band frequencies are carefully allocated into three categories: local, regional, and clear channel.

Local channels are 1230, 1240, 1340, 1400, 1450, and 1490. Stations are limited here to a maximum transmitter power of 1000 watts and must use a non-directional antenna. These are very congested frequencies, with maximum reliable reception range at night usually restricted to less than 30 miles. (If you have no nearby stations on these frequencies, you will usually hear only a "rumble" at night on them.) However, reception at greater distances is possible with patience and good equipment. Local channels are often referred to as "graveyard" frequencies.

Stations on regional channels can use higher transmitter powers, typically up to about 20,000 watts, and directional antennas. As you might expect from the term "regional," these stations are intended to serve specific geographic areas. Regional stations often use different power levels and directional antennas for day and night operation; since AM band signals travel further at night, regional stations will reduce transmitter power and use a "tighter" directional antenna between their local sunset and local sunrise.

QSL from station KLZ KLZ, 560 kHz, in Denver is a regional station. The "5 KW DA-U" notation on this QSL card means it operates with 5000 watts with a directional antenna for an "unlimited" (i.e., 24-hours per day) amount of time. This card was received for a special "DX test" (explained below).

The term "clear channel" is a misnomer today. Clear channel stations can use 50,000 watts of power and many use non-directional antennas. In the early days of radio, no other stations could operate on a clear channel station's frequency between sunset and sunrise. Because the channel wasliterallyclear and high transmitter powers were used, clear channel stations could be heard over much of the country at night.

Beginning in the early 1980s, additional stations were authorized to operate on clear channel frequencies at night, often with greatly reduced power and directional antennas. Many of the stations so authorized had previously been allowed only to operate during their local daytime, and lost listeners when they had to sign off at sunset. While the "breaking up" of clear channels may have been economically necessary for daytime-only stations, it did result in many clear channel frequencies sounding much like regional channels at night.

One practice that has continued since the early days of radio is the "DX test." FCC rules allow stations which must reduce power or change antennas at night to briefly test using daytime power and antennas during an "experimental period" from midnight to sunrise. A DX test is a special program transmitted after local midnight using higher transmitter power or different antennas than the station normally uses. Often, station identifications in Morse code are used; the Morse code will often make it through interference better than voice announcements. Most DX tests are arranged in conjunction with one or both clubs for AM band DXers to assure a large listening audience.

Outside of North and South America, AM stations operate on channels spaced 9 kHz apart (765, 774, 783, etc.). These so-called "split" frequencies means it is possible to hear AM stations from Europe, Asia, and Africa between the 10 kHz channels used in North and South America. Listeners along the east coast can hear European and African stations from their local sunset to about 0600 UTC, while Pacific Coast listeners can catch Asian stations from about an hour before sunrise to actual sunrise.

To hear such foreign stations, you will need a receiver with excellent selectivity and a high performance antenna. Many AM DXers use an indoor rotatable loop antenna with a preamplifier. A loop antenna will reject signals coming from right angles to it, and this helps reduce interference. Other AM DXers use "Beverage" antennas, which are wires in straight lines running for hundreds or thousands of feet.

The best time for long distance AM band reception is during the fall and winter months, with the period around the equinoxes being especially good. Stations located to the east of you will start fading in about an hour before your sunset, while stations to your west may remain audible up to an hour after your local sunrise.

There are currently two clubs specializing in AM band DXing, the National Radio Club and the International Radio Club of America. Both publish weekly bulletins during the fall and winter "DX season" giving news about what's being heard and upcoming DX tests. Both clubs also offer station directories and other publications of interest to AM band DXing specialists.

Take a spin across the AM dial tonight. You might be pleasantly surprised at what you can hear!

Introducing the "Action Bands"

Listening to the "action bands"—that is, those frequencies above 30 MHz—on a scanner radio may well be the most popular of all hobby radio activities. And it's a relatively new activity, as the first scanner radios weren't introduced until about 1970.

A scanner radio is one that automatically tunes through a set of frequencies, usually called "channels," at a predetermined rate. When the scanner finds a signal on a channel, it pauses there to let you hear the communications. When the signals end on a channel, the scanner resumes tuning through its channels until it finds another "active" channel.

Scanners were a real boon to listeners because most transmissions above 30 MHz are brief, and operating frequencies are quiet for long periods between transmissions. Older radios that tuned above 30 MHz had to be manually retuned to change frequencies. If you were tuned to the frequency used by your local police department, for example, you would miss a call on the frequency used by your local fire department. Scanners made it possible to keep track of several different channels simultaneously.

The first programmable scanners were introduced in the late 1970s, and this really boosted the popularity of scanner listening. The first scanners required to you to install new frequency-controlling crystals each time you want to receive a new frequency. Not only was this expensive, there was often a delay of weeks before new crystals "cut" to the desired frequencies arrived. Programmable scanners make changing frequencies as easy as tuning a new station on an AM or FM radio. Most scanners today also have a search function that lets you seek out active frequencies that you're not aware of.

Here is a sampling of what can be heard on a typical scanner:

* Police, fire, and emergency services. Few things are as gripping as listening to the police in pursuit of criminals, firefighters attempting a rescue inside a burning building, or an ambulance rushing to the hospital!

* Aviation. Civilian aircraft and airports can be heard from 108 to 136 MHz, while military aircraft are found from 225 to 400 MHz.

* Marine communications. 156.80 MHz is the ship calling and emergency channel, with several other channels near it. This frequency is used on rivers, lakes, etc., in addition to the oceans.

* Government. Federal, state, and local governments are heavy users of the bands above 30 MHz. Listening can range from law enforcement agencies to your local sanitation and road maintenance services. This is a great way to keep track of how your tax dollars are being spent!

* Ham radio. Ham radio operators are found at 50 to 54 MHz, 144 to 148 MHz, and several other bands.

* Private businesses. You can hear the activities of businesses ranging from taxicab companies to motion picture crews on your scanner.

* Miscellaneous. Wireless microphones, weather bulletins, and even garage door openers can be received on most scanners.

Most communications heard above 30 MHz will be in FM, with the exception of AM on the aeronautical bands. Propagation on the bands above 30 MHz is usually restricted to "line of sight." This is defined as the optical horizon as viewed from the receiving antenna plus about another 15% due to radio signal "bending" caused by the Earth's curvature. While receiving range can be increased by using an outdoor antenna mounted high in the air, most signals heard above 30 MHz will be within 100 miles or less. However, under unusual propagation conditions, stations on the 30 to 50 MHz band can be heard from hundreds or even thousands of miles away.

To improve coverage, many users of the frequencies above 30 MHz employ repeater stations. A repeater station is located on top of a mountain or tall building, and automatically re-transmits a signal received on one frequency (the input frequency) on a second frequency (the output frequency). Some favorably located repeater stations can be reliably heard at distances of over 150 miles.

For listening to radio services within a radius of about 30 miles or so, an indoor scanner antenna, like the telescoping "whip" built into many scanners, is adequate. However, reception range and signal strength will be greatly improved if you use an external outdoor antenna.

While you're generally free to listen to anything tuned by a scanner (except cellular telephone calls, wireless intercoms and cordless phones), Section 705 of the federal Communications Act prohibits divulging or using the contents of any message you hear not intended for the general public. In practice, this is widely ignored; many wrecker and towing services have scanners in their offices to keep up with traffic accidents where their services might be needed, for example. Nonetheless, the law is on the books and could be enforced. It is prudent to not divulge the contents of anything you hear on a scanner.

In 1992, Congress went further and outlawed the sale and manufacture of scanners that can tune the cellular telephone bands. There have been attempts since then at the federal level to restrict scanning listening, but all have been unsuccessful.

Various states and localities have tried to restrict the use of portable or mobile scanners in an attempt to cut down on "ambulance chasing" and similar activities. States like New York and New Jersey have criminalized the use of a scanner to hamper police, fire, and emergency services or in the commission of a crime. A local scanner dealer can give you details about any restrictions in your area.

Interest in scanning listening continues to grow.